Ketika…

December 7th, 2007 by allboutvienz

Satu tayangan di televisi membawa ingatan saya kembali ke tiga tahun yang lalu. Ketika itu ayah, ibu, adik-adik, dan beberapa sanak saudara yang lain melepas kepergian saya di bandara. Saya teringat akan setiap tetes mata. Mereka siratkan tanya, bilakah Dia kehendaki kembali perjumpaan? Pelukan erat tanpa henti dari mereka mengatakan semua tanpa berjuta kata. Semua cinta, rindu, doa, harapan, dan ketakutan mengisi relung-relung pikiran dalam pelukan yang terasa berlangsung selama seribu detik itu.

Dan air mata menetes lagi hari ini. Teringat akan detik itu.

Lalu saya tersadar dan kembali ke kenyataan. Bahwa peristiwa itu telah berlalu bertahun-tahun yang lalu. Bahwa itu adalah titik tolak menuju ke saat ini. Mungkin saya berubah, mungkin saya masih orang yang dulu. Hanya mereka yang mengerti. Tetapi saya jadi teringat kembali akan harapan-harapan itu. Hanya saja pemahamannya lebih berkembang kini.

Yang saya lihat hari itu adalah orang-orang yang mengasihi saya meletakkan harapan-harapan terbesarnya di pundak saya ketika saya melangkah ke gerbang yang membawa saya ke masa depan. Tetapi yang tidak terlihat lebih besar dari itu.

Hal-hal yang tidak terlihat adalah harapan orang-orang yang merasa hak hidupnya dirampas oleh otoritas. Mereka adalah orang-orang yang merasa teradili oleh ketidakadilan, dikebiri oleh keputusasaan. Orang-orang yang tidak saya kenal, bahkan hanya saya temui selintas di tengah debu-debu kepengapan ibu kota. Orang-orang itu juga menaruh harapannya di pundak saya, di pundak kami, segelintir pelajar yang diberi kesempatan lebih untuk membawa perubahan.

Lalu saya mempertanyakan kembali pada diri sendiri, di manakah saya kini? Apa yang telah saya lakukan untuk membawa perubahan tersebut, dan saya merasa malu sendiri:

Untuk apa kedua tangan ini, jika hanya memperkaya diri sendiri?
Untuk apa telinga di kanan-kiri, jika tak mendengar tangis saudaramu di sini?

Saya harap saya tak akan mengecewakan harapan-harapan itu lebih jauh lagi. Semuanya dimulai di sini. Saya hidup bukan untuk diri sendiri…

Roman Picisan

November 26th, 2007 by allboutvienz

Dasar orang itu..
Bikin kangen mlulu. Bikin senyum2 mlulu. Nyengir-nyengir mlulu.

Sayaaaaaang sekali sama orang itu.

Kenapa ya, kenapa ya??

Apakah karena dia bikin saya nyaman tiap kali saya bareng dia?
Apakah karena sama dia saya bisa ngomong apa aja?
Apakah karena saya bisa jadi diri saya sendiri dengan dia?
Atau karena ia menerima saya apa adanya..
Hmm.
Mungkin karena dia selalu bisa bikin saya ketawa,
mungkin karena dia pernah menyanyikan lagu yang buat saya terpesona..
mungkin juga karena perjuangan dia yang membuat saya jatuh cinta,
atau karena kemunculannya di saat-saat tak terduga.
Mungkin karena kejujuran yang saya lihat di binar matanya,
atau karena kegigihannya yang tak terbantahkan.
Bisa jadi karena ke-macho-annya?
(Hehehe. Ini lelucon antara saya, dia, dan fadhil si pencetusnya)
Yang jelas, setiap momen bersamanya amat sangat berharga.
Sesederhana apapun itu.
Sesederhana apapun ia.

Bahkan Lapangan Segitiga CC pun jadi istimewa berkatnya.
=)

Saya bisa saja menuliskan 11.112.007 alasan mengapa saya begitu menyayangi dia,
tetapi yang saya sebutkan hanya akan menggambarkan
bahwa ia adalah seseorang yang begitu penyayang,
sehingga tak sulit bagi saya untuk menyayangi dia apa adanya…

Oky Eldyagusta,
aku sayang kamuuu,,,

…malu ah

Brand New Melody

November 21st, 2007 by allboutvienz

So there was time when nights felt bitter and
blue. And love was something cold I could barely touch it with my
fragile hearts that’s trembling from the reminiscence of a past memory.
Loneliness was the only accompany.   

When
every passing of every second hurt me, and every breath I took was a
stage of misery, my state of mind was the only thing that kept me
strong. It encouraged me to move on. The thought that nobody can bring
me down kept me going on. Consequently, I found another side of me that
grew really strong; another part of me that needed no men to bring me
joy.   

As a result, the world laughed at me;
tortured me with such agony. But I just nodded my head carelessly and
laughed back. If the world can play games on me, so why can’t we?   

Deep inside, I knew something was wrong.   

Even worse, I knew that loneliness still crawl along.   

Then
somebody came and knocked the door I hadn’t known was there. He brought
along with him twenty million ways to make me smile again. I was amazed
by the way he caught my heart; likewise he managed to wipe all this
tears out. Replacing painful memories; filling in the empty spaces with
beautiful melody.   

A melody that causes this smile to linger; melody that I would want to sing forever.   

He
is everything I could ask for, and more. He is the answer to all my
prayer. How can I not be thankful to God, over and over, and over? He
makes me want to be a better person; in fact he makes me believe that I
can be better.   

Now the sun is shining in
every turning of my day. Because he’s here to brighten my life in every
minute and every way. Not only that I can’t wait for the morning to see
his smile lit up my day, but every night is merely beautiful when I
dream about his gorgeous eyes looking into mine. And when his voice is
the first thing I hear when I wake up in the morning, I can feel my
cheeks blush just by the presence of him in my thought.

 You are like a dream came true. I love you.

What A Looooooong Day!

November 7th, 2007 by allboutvienz

Yah, hari ini terasa panjaaang sekali buat gw. Sekarang pukul 22.02 malam, tapi kayaknya kejadian2 yang saya alami tadi pagi rasanya terjadi kemarin, atau beberapa hari yg lalu. Perasaan yang aneh. Tapi hari ini tuh panjang banget. Dan gw tidak ingin melupakan hari ini, entah kenapa.

Dimulai dari wake up call dari seorang, ehm, yah.. dia.

Entah kenapa pagi-pagi gw bisa meracau sebanyak dan sepanjang itu. Ga tau deh, ngomong apa aja. Udah lupa juga. Yang gw ingat, gw ngomong panjang lebar banget, sementara yang ngebangunin gw rasa sudah kembali tidur. Haha! Udah gitu merasa nggak enak. Ketauan deh, aslinya gw yang super cerewet. Hehe.

Lalu berangkat kuliah. Ada dosen tamu dari Bappenas. Gak gitu penting sih, kuliahnya. Terlalu money-oriented. Ga nangkep orientasi pembicaraannya ke mana, dan apa relevansinya dengan mata kuliah PKN. Yang kaya gituan mah, gw juga sudah merencanakan buat masa depan gw (baca: investasi properti. hakhaks!). Akhirnya sibuk chatting2an sama Laras. Eh, sebelumnya menyempatkan untuk membalas wake up call yang bersangkutan karena sampai jam tujuh lebih lima belas menit, orangnya belum nongol2 juga. Jangan-jangan masih tidur??? Lalu masih sempat berusaha menyimak materi kuliah sekitar lima belas menit pertama. Sisanya chatting2an, haha hihi, liat2 buku arsitektur (lebih guna daripada merhatiin si dosen tamu).

Eh, pas nengok ke belakang. Ada mas-mas yang ngeliat, sambil senyum-senyum. Hakhak! Saya pun membalas nyengir. Nyengir kuda. Hehe, jadi malu.

Lalu survei ke Villa Istana Bunga di Lembang. Agak kesal karena si teman saya malah pergi survei sama orang lain (faktor X!!), ya udah akhirnya pergi sama teman2 yang lainnya. Senangnya pergi ke daerah pegunungan di tengah minggu! Fresh aja liat yang hijau-hijau. Rasanya bebas dari rutinitas.

Survei yang aneh, sebenarnya. Kita malah sok2an menyamar jadi orang2 yang mau nyewa villa. Hihihi. Padahal diem2 ngukur ruangan2. Aneh banget lah. Tapi senang juga, ketemu orang2 yang begitu ramah. Hihihi, jadi ga enak.

Pulang. Menyetir kembali ke Bandung. Waw, jauh juga petualangan kami si Bolang hari ini…

Setelah itu kembali ke kampus untuk asistensi. Ga ada yang spesial. Tapi senang juga, ketawa-ketawa sama teman2 kelompok lagi. Mengintimidasi Abe yang MT selangit, menjilat Laras si Ratu Labtek IX B, dan memuja Anggun si Ratu Jalanan. Hahaha! Anggota kelompok gw emang aneh-aneh. Tak lupa senggol2an sama Laras seraya mengedip centil ke Pak Dosen yang Uhuy. Huahaha. Canda deeh.. Tapi tu orang emang keren banget.. Sayang, sudah menikah. HAHAHA!

Sorenya agak merasa kesepian. Teman-teman gw udah punya janji masing2. Ada yang pacaran, ada yang pulang, ada juga yang pergi sama faktor X. Dia? Entah ke mana. Gw? Belum pengen pulang!!! Yaa sudah lah. Akhirnya berpulang ke tempat berteduh yang biasa: LFM. Merengek2 minta diajari ngedit VCD wisuda ke Tangkas. Akhirnya diajari juga sama V-man. Akhirnya menghabiskan waktu sesorean hingga malam untuk mengedit.

Jadilah saya: Vivien sang Editor.

Bo. 3 jam baru jadi 7 orang, masih ada 33 orang lagi yang salamannya belum diedit. Huaah. Capek deh. Akhirnya pulang bareng Kocu, yang entah kenapa sebelum masuk mobil gw harus semprot2 parfum dulu. Haha. Segitu mindernya ya, Cu, masuk mobil gw? =p

Hahaha. Hari yang aneh. Entah kenapa, hari ini terasa begitu panjang. Begitu banyak hal yang terjadi, padahal setelah diruntut, gak banyak-banyak juga. Aneh.. Tapi entah mengapa ingin mengabadikan hari ini di blog. Mungkin juga kerinduan akan menulis diary. Baiklah, malam ini saya akan mencari diary saya dulu..

Oia. Hari ini ada yang jadian gak? Bagus lhoh, tanggalnya: 071107.
Seven eleven. Wow.
Hakhak. Sudah tak jelas.

Selamat hari Kamis, sodara-sodara!

***

buat Kamu: hmm.. good night! =)

A Night to Remember

October 31st, 2007 by allboutvienz

Thanks..
for the sweet confession,
and for the long talk in my living room,
and for the flower in the rain,
and for all the moments you gave to me that night.

Thanks..
for making me smile again.

Salah

October 30th, 2007 by allboutvienz

Semua yang saya lakukan adalah kesalahan. Setiap langkah yang saya ambil ternyata membawa diri saya terjatuh di kemudian hari.

Ternyata dunia belum mau berhenti menghukum saya akan kesalahan masa lalu.

Ketika saya akhirnya melupakan satu nama, orang lain tetap menghubung-hubungkan setiap perbuatan saya dengan nama yang sama. Ketika saya berusaha memperbaiki hidup saya lagi, mereka mengingatkan satu perkataan yang terucap entah berapa lama yang lalu. Sebuah perkataan yang lahir dari kebencian, emosi yang timbul dari sakit hati. Lalu ketika saya berusaha mengobati luka tersebut sendiri, saya rasa mereka belum mau membiarkan saya sembuh.

Mungkin lebih baik saya diam. Bersikap skeptis jauh lebih mudah dan menyenangkan.

Boys.. Boys.. Boys

October 22nd, 2007 by allboutvienz

Siang yang biasa.

Dara, Keisha, dan saya sedang melaju di antara
kemacetan kota Bandung di jam makan siang. Rencananya kami mau
senang-senang hari ini, menghabiskan uang lebaran dengan makan siang di
‘tempat yang jauh’. Oh iya, kalau buat mahasiswa seperti kami ‘tempat
yang jauh’ itu sama dengan ‘tempat yang (agak) mahal’. Seperti biasa
Dara duduk di kursi pengemudi, Keisha di sebelahnya, dan saya di kursi
belakang, tenggelam dalam pikiran saya sendiri.

Lalu radio memutarkan lagu ‘Cinta Begini’ yang dilantunkan oleh artis ibukota, Tangga.

Saya dan Dara semangat menyanyi bersama. Apalagi di bagian
‘…ku tak bisa terimaaa
bila terus tak setiaaa
Mengkhianati diaa..
menduakan cintaaaaa…’

Keisha
hanya geleng-geleng melihat kedua temannya yang tak beres. Seperti
biasa kalau kami bertiga sudah berkumpul kami pasti bergosip ria. Siang
ini Dara, seperti biasa, membuka sesi nge-gosip kami dengan pekikannya
yang khas.

‘Aahh!! Kalian udah pada denger kan kabar terbaru si Danu?’ katanya bersemangat.

‘Hahaha..
kenapa lagi tuh orang?’ tanya Keisha. Saya hanya tersenyum tipis
mendengar nama orang yang pernah ‘hampir’ mampir dalam hidup saya itu.

‘Dia lagi deket sama si Mala kan, anak jurusan XX itu?’ jawab Dara.

‘Haha, iya ya? Gw udah lama tu ga stalking makhluk itu,’ kata saya.

‘Mala? Bukannya Mala udah punya cowo yaa? Hiih, kenapa si tuh orang ganggu cewe orang aja?’ tukas Keisha begidik.

‘Cape deeh,’ kata Dara.

Saya hanya tersenyum sinis. ‘…lagi.’ gumam saya.

‘Gw
heran deh sama tu orang. Pas lagi punya cewe, selingkuh. Pas lagi
single, bikin pacar orang selingkuh. Maunya apa sih?’ tanya Dara
sengit. Sementara lalu lintas sudah mulai lancar di depan sebuah pusat
perbelanjaan yang kami lewati.

‘Hmm. Mungkin dia ngga bohong
ketika dia bilang ’sayang’ ke pacar-pacarnya dulu, tapi dia adalah
orang yang bermasalah besar dengan yang namanya komitmen,’ jawab saya
bijak. Saya tidak pernah mengenal Danu terlalu dalam, tetapi saya cukup
tahu bagaimana kelakuan cowok yang satu itu. Lust IS his passion.

Hmm. Saya jadi teringat akan satu orang lain lagi yang cukup bermasalah dengan komitmen.

Dia
adalah seseorang yang pernah berlutut dan menangis di depan saya karena
menyesali perbuatannya. Dia pernah mengkhianati kepercayaan pacarnya,
tetapi menolak sebutan ‘playboy’ menempel pada dirinya. Dia yang punya
sejuta pembenaran atas kejahatannya. Dia yang hanya ingin
bersenang-senang dengan seorang gadis yang benar-benar berharap banyak
padanya. Itu, dan dia masih saja mengulangi kesalahan yang sama. Oh ya,
ia juga membuat pacar seseorang berselingkuh. Tapi itu biarlah cerita
mereka.

Saya hanya tertawa kecil mengenang cerita-cerita yang
saya ketahui tentang ‘Pria dan Komitmen’. Tentu saja, judulnya bisa
juga dibalik: ‘Wanita dan Komitmen’ dengan saya (dan Dara) sebagai
subjek pelakunya. Tetapi ego saya akan membenarkan: ’semua terjadi
karena satu alasan’. Frase yang terakhir itu saya pelajari juga dari
Danu.

Saya jadi teringat curhatan saya pada si Radhit, pacar bohongan saya di kampus, beberapa hari yang lalu. Waktu itu saya protes tentang keegoisan cowo yang telah lumrah terjadi di masyarakat kita: kenapa cowo tuh OGAH RUGI banget? Maksudnya, kenapa sih cowo tu ga mau ngelepasin yang lama sebelum dapet yang baru???

(Pertanyaan ini merujuk pada suatu sosok yang bilang ‘masih sayang’ padahal jelas-jelas lagi deketin seseorang)

Eh si ‘Pacar’ malah dengan santainya bilang, ‘Ya cowo tuh emang egois, lagi. Buktinya gw, lagi ngedeketin lagi mantan gw tapi ga mau ngelepasin yang sekarang.’

Grr. Ternyata saya salah curhat. Ya, ya, si Pacar Bohongan ini memang sama aja buayanya sama cowo-cowo kebanyakan. Makanya saya ma dia ga maju-maju (padahal emang ga cocok aja. HAHA)

Lalu tiba-tiba saya jadi teringat akan seorang sahabat saya dari kota sebelah.

Hmm, bagaimana ya mendeskripsikannya?

Dia
adalah cowo yang tahu bagaimana berbicara kepada wanita. Seorang yang
pemikirannya hebat dan dalam. Seorang yang pengetahuannya luas sekali.
Seorang yang sangat bijak, karena ia sendiri tak tahu kebijakan
dirinya. Saya dan orang-orang lain yang mengagumi ia akan mengakui
kepandaiannya. Tetapi dia sendiri tidak menyadarinya.

Ia yang suatu malam bertanya pada saya, ‘Gimana sih, cara menunjukkan ke seseorang kalau kita suka?’

Satu
pertanyaan yang saya tak pernah kira akan terlontar dari mulutnya.
Maksud saya, dia adalah cowo yang dikagumi banyak cewe di
lingkungannya. Rasanya tidak sulit bagi orang seperti itu untuk
mendapatkan pacar.

Tetapi setelah dia bercerita lebih lanjut,
saya lalu mengerti keadaannya. Dengan sikapnya yang amat-sangat gentle,
banyak cewe jadi salah pengertian akan sikapnya, dan menaruh harapan.
Dan ketika cewe itu menyadari bahwa cowo ini tidak bermaksud apa-apa
padanya, cewe itu kecewa dan menyebutnya ‘Tukang Gombal’.

‘Itu sih, mereka aja yang ga mengenal kamu cukup baik,’ kata saya padanya.

‘Maksudnya?’

‘Yah,
orang seperti saya, yang bisa dibilang kenal sama kamu, mengerti kok
kenapa kamu bersikap begitu. You’re just a really good person, and they
can’t understand it. Mereka harus belajar untuk menerima kebaikan
seseorang atas dasar tulus; nggak semua orang baik bermaksud
macam-macam kan?’ kata saya memberikan penjelasan. Ia tidak begitu
menangkap maksud saya malam itu karena obrolan kami disela oleh makanan
pesanan kami yang sudah datang, dan teman-teman yang lain sudah ribut
mengajak kami membicarakan topik-topik yang berbeda. Ya sudahlah, toh kami bisa membahasnya lagi lain kali.

Oh iya, Hangga namanya. Teman baik saya itu.

Orang
sebaik Hangga, yang kebaikannya sering disalahartikan sehingga ia
mendapat predikat yang tak seharusnya. Orang sebaik Hangga, yang ketika
akhirnya jatuh cinta pada seseorang, tak mengerti bagaimana seharusnya
bersikap karena orang lain akan mengira perbuatannya hanyalah gombal
belaka. Tentu saja, saya dan Hangga hanya berteman baik saja karena
saya entah bagaimana bisa mengerti mengapa ia bisa bertindak atas dasar
tulus. Saya akui Hangga adalah orang yang sangat saya kagumi
pemikiran-pemikirannya, tetapi saya dan dia akan selalu menjadi teman
baik saja.

Sungguh tak sabar ingin melihat cowok se-’absurd’ Hangga jatuh cinta.

Saya
begitu asyik tenggelam dalam kenangan-kenangan sampai-sampai tidak
menyadari bahwa kami sudah tiba di tempat yang dituju. Dara dan Keisha
masih menggoda saya tentang Danu, tetapi saya tidak peduli lagi.

Boys will always be boys. No matter what we say.

Sekarang waktunya makan siang. =)

***


(keterangan: kisah ini merupakan fiksi belaka. jika ada kesamaan cerita dan peristiwa, ya itu mah emang disengaja. HAHAHA)

Nothing Better

October 9th, 2007 by allboutvienz

It was a quote from a movie called ‘Jomblo’ that I remember: ‘If I
always look for someone better, one day, I’d leave you for someone
better too…’

It raises a question for me: ‘Why do we always want to look for someone better?’

In terms of relationship, we tend to look for someone better;
someone nicer, someone prettier, someone richer — that we forgot the
root of the relationship itself: ‘to love somebody the way they are’.

Another quote from a song from my favorite band, Copeland:

'It occured to me at oncethat love could be a great illusionthat makes fools of brilliant thinkersevery day'(Copeland - Eat, Sleep, Repeat)

When we’re in love, we tend to be blinded by the thousand lights surrounds us; that’s why Mr Aaron Marsh says that ‘love  makes fools of brilliant thinkers everyday‘.
In fact, when we fall in love, we don’t think. Should we care if he
should have treated us better? No. Should we care if he/she has already
had a significant other? Hmm, NO. Seriously, we’re so blind that
sometimes we don’t know if it is our eyes, our heart, our brain, or
purely passion / lust that takes all the action, when we’re in love.

When
we’re in love, we would do anything for him/her. We don’t see their
flaws, we don’t care about it. What matters is, showing the good side
of ourself; so that we can draw their attention. In this matter, we are
no different than animals.

Back to subject: something better.

Of
course it is our nature to fight for something better. It’s the nature
of humanity: nothing is good enough. Even when it comes to
relationships.

In the beginning of every relationship, we tend
to be extremely happy with him/her. Everything about him is important,
never mind the rest. Flaws are excusable, or at any rate,
understandable. As long as he loves me, that’s all that matters.

Later
in the days, as you have been going out for years, nothing seems to be
as excusable anymore. You will see their flaws as extremely important
to be fixed, due to the durability of the ongoing relationship itself.
Then comes the day when you try to look for something better; someone
better. And that’s when you see the world in a different perspective.
You will see that there are other human beings that’s better than him. Suddenly you feel so naive.

But
if you think about it again –with a clearer mind– actually, it
doesn’t matter anyway. You know, if there are someone better out there.
If he is the best for you, no matter what his flaws are, if you love
him just the way he is, you won’t care about other guys that is hotter,
nicer, more romantic, etc. If love should be honest and pure, then keep
it that way and bring it along as you go.

Nothing better, no one’s better; as long as he’s the best for you. You shouldn’t care less.

Gossip Girls

September 29th, 2007 by allboutvienz

In YM conference. Saturday night.

 

larz5_17: eh ehhh

larz5_17: gw baru tau….!

larz5_17: ada gosip terbaru???

larz5_17: ternyata……….

rhumbafrappucinno: baru tau apaa

so_cal_vienz: APA RAS??

so_cal_vienz: heheheh

rhumbafrappucinno: LARASS

rhumbafrappucinno: APAA

larz5_17: itu loh…

larz5_17: si ‘prince’ udh putus?????

larz5_17: huahahahahahaa

larz5_17: *parah tertawa diatas penderitaan org lain

larz5_17: iyaaaaaaaaaa

rhumbafrappucinno: Hah seriuss??

rhumbafrappucinno: parah

so_cal_vienz: huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

rhumbafrappucinno: astagadragon

rhumbafrappucinno: KOK BISAAA??!!

so_cal_vienz: gw ga tau musti seneng atau sedih

so_cal_vienz: serius?

so_cal_vienz: kenapa?

larz5_17: buset

so_cal_vienz: tau dari mana????

rhumbafrappucinno: ras tau dari mana ras

larz5_17: jadi gw tau pas d lfm itu….

larz5_17: gila bok radar gw kenceng

kan

?hahaha

rhumbafrappucinno: parahh

rhumbafrappucinno: peka pada hal2 yg begituan ni laras

rhumbafrappucinno: HAHHAHAA

so_cal_vienz: huahaha

so_cal_vienz: emang dia pas tadi malem kenapa?

so_cal_vienz: dia ngelirik2 ke gw terus yak?

so_cal_vienz: HAUAAHAHAHAHA. NGAREP

rhumbafrappucinno: eh btw

rhumbafrappucinno: tadi ada sesuatu yg lucu pas gw ngamen..

rhumbafrappucinno: jadi

kan

kita ngamen

rhumbafrappucinno: pastinya kita ngeliat ke orang yg dalem
mobil don gbo

so_cal_vienz: trus?

rhumbafrappucinno: trus gw ketmu si ‘bedak’..

rhumbafrappucinno: tapi sama bapak2 cina gitu..

so_cal_vienz: sapa?

so_cal_vienz: WHAT???

rhumbafrappucinno: bokapnya kali yaaa

rhumbafrappucinno: huhuhuhu

so_cal_vienz: huahahahaha

so_cal_vienz: iya rey

so_cal_vienz: jangan suudzon ddulu dong

rhumbafrappucinno: *suuzonism

so_cal_vienz: *jangan kayak gw

so_cal_vienz: huahahaha

rhumbafrappucinno: gw sama nia udah saling bertatap mata

rhumbafrappucinno: *siapa ya boooo

rhumbafrappucinno: hahahaa

rhumbafrappucinno: hahahaha

….

larz5_17: oiya

larz5_17: btw si kecengan lu di kelas ppkn nge view gwtuh

so_cal_vienz: kecengan yg mana ras?

rhumbafrappucinno: eh siapa kecengan vivien???

so_cal_vienz: siapa ras?

so_cal_vienz: ?????

larz5_17: eh eh..

larz5_17: heuu

rhumbafrappucinno: yg mana hayooo

rhumbafrappucinno: hahahaha

larz5_17: yg mana vinn? salah dneg yak gw?

rhumbafrappucinno: …

larz5_17: ada jg si ‘gitaris’ tuh

larz5_17: huahahahahahaaaaaaaaa

rhumbafrappucinno: hahahahhahahahaahahhahahaa

so_cal_vienz: huahahahaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

rhumbafrappucinno: vien pasarannya ga turun ko

kan

ada ‘gitaris’  yg ngecengin

larz5_17: adeuhhhhhhhhhhh

rhumbafrappucinno: hohohoho

larz5_17: hahahahahahahaha

so_cal_vienz: hakhakhak

so_cal_vienz: emang dia ngecengin ya?

larz5_17: hahahahahaha

so_cal_vienz:

kan

baru nanya2 aja

larz5_17: ga pentng! cukup.

rhumbafrappucinno: AKU TIDAK TERIMA!!

rhumbafrappucinno: ngapain nanya2 kalo ga ngeceng vien

rhumbafrappucinno: itu tuh kayak nanya

rhumbafrappucinno: "ada size m nggak mbak?"

rhumbafrappucinno: waktu belanja di distro

rhumbafrappucinno: tapi lo ragu mo beli apa engga

rhumbafrappucinno: hahahaha

larz5_17: haaa?

so_cal_vienz: hakhak

so_cal_vienz: perumpamaan yg bagus

larz5_17: ah masa ragu2/ ga seru kl gt. hihihii

rhumbafrappucinno: tau

rhumbafrappucinno: cowo lamban

so_cal_vienz: hahaha..

larz5_17: iya ah payah.hahaha

so_cal_vienz: tenang, tenang jeng

so_cal_vienz: hahahaa

larz5_17: hihihih

rhumbafrappucinno: eh si ‘xxx’ itu bener mantanny ‘bbb’ btw?

larz5_17: haaaaaaaaa

larz5_17: ‘xxx’?

larz5_17: hayo rey crt!

rhumbafrappucinno: hah

rhumbafrappucinno: dia message di fs gitu

larz5_17: trus?

rhumbafrappucinno: bilang ktnya sering liat gw gtu

rhumbafrappucinno: yauda

larz5_17: blg apa?

rhumbafrappucinno: knalan blabla

so_cal_vienz: cieehh

so_cal_vienz: hakhakhak

larz5_17: basi ahhh

rhumbafrappucinno: cmn pengen tau aj ktnya

rhumbafrappucinno: hahahaha

larz5_17: masa lwat fs ngm gtan?

rhumbafrappucinno: nanya ym sm nomer hp

rhumbafrappucinno: hahaha

rhumbafrappucinno: ngga

larz5_17: yaeklahhhhhhhhhhhhhhhhhhhh

so_cal_vienz: hakhakhak

so_cal_vienz: cepet juga geraknya

rhumbafrappucinno: "tau tapi pengen kenal"

rhumbafrappucinno: haha

so_cal_vienz: gyahahahaaaaaa

larz5_17: hihiihihihi

rhumbafrappucinno: saya berprasangka baik

larz5_17: ati2 bo

rhumbafrappucinno: ahhahahahaha

rhumbafrappucinno: knapa

rhumbafrappucinno: brengsek y

larz5_17: feeling gw ama tu org ga enak

larz5_17: iya kynya rey.heux

rhumbafrappucinno: yaelah

rhumbafrappucinno: ahahahaha

rhumbafrappucinno:

kan

aku udah ada

larz5_17: aminnn

larz5_17: hehehehehehheee

rhumbafrappucinno: saya single but not available

rhumbafrappucinno: hahahahaha

rhumbafrappucinno: emg denger apa aja ttg dia

so_cal_vienz: hakshakshaks

so_cal_vienz: gw sih taunya dia mantannya ‘bbb’, itu aja..

rhumbafrappucinno: kalo laras?

rhumbafrappucinno: hahahahaha

rhumbafrappucinno: jgn2 ada yg seru2

rhumbafrappucinno: anjrit

rhumbafrappucinno: gibah jelang saur gini kita

rhumbafrappucinno: hahahahaha

so_cal_vienz: hakhakhak

so_cal_vienz: si rey kayaknya penasaran nih

so_cal_vienz: ahahahaa

rhumbafrappucinno: saya suka mencari info ttg cwo brengsek

rhumbafrappucinno: HAHAHA

larz5_17: apaa

larz5_17: gatau sih

larz5_17: tp kynya ‘xxx’ itu

so_cal_vienz: ntar dulu

rhumbafrappucinno: ah engga kali ras elo aj yg ga tau hahaha

so_cal_vienz: ni ngomongin ‘xxx’ ato ‘gitaris’?

larz5_17: cowo yang ngerasa kegantengan.

rhumbafrappucinno: tunggu

larz5_17: oow

rhumbafrappucinno: ‘xxx’?

larz5_17: siapa nih

rhumbafrappucinno: emang sih ganteng

larz5_17: ‘xxx’

rhumbafrappucinno: ya bagus lah gw sudah menyadari fakta tsb
ahhahahahaha

rhumbafrappucinno: pergilah ke neraka jahanam wahai bajingan
ganteng HAHAHA

larz5_17: SERU BGT conference LVR mlm ini

 

Seriously. How shallow do you think we are?? HAHAH!

Birthday Wish List

September 22nd, 2007 by allboutvienz

Okay. Since my birthday’s coming up, I guess it’s not a sin for me to make myself a wish list, aiight? Besides, now it will be easier for you to find a perfect gift for me; or at least it will give you some idea…

Haha!

  1. Any Architectural References. Well, I’m an architect in progress (or, an Architecture Student, to be exact). So I need References. I need to see as many precedence as possible. That kind of book will be a perfect gift for me. Such as Indonesian Architecture, Karya Arsitek Indonesia, Great Architects in The 20th century. Just any good architecture books, with great photos, and great…buildings, I guess.
  2. The Movie Book of Answers. I heard about this book from her blog, and I think the book is a lot of fun. It has quotes from Hollywood’s classic movies; and it is one of those books that you can ask a question, and then it gives you an answer. You don’t have to believe it, of course, but still it’s a lot of fun!
  3. Mark Haddon’s ‘The Talking Horse and the Sad Girl and the Village Under the Sea. So I read his ‘Curious Incident of The Dog in The Night-Time’; and I found it very amusing. I have an account in goodreads and I find that some of my friends have reviewed this book, and I’m very interested.
  4. Also, if you happen to own a copy of Tim Burton’s ‘Melancholy Death of Oyster Boy and Other Stories, that would be a great gift for me as well. Well I have read the online version, and I liked the book so much. I mean, it’s Tim Burton, man!
  5. Collector’s Edition of ‘The Lord of The Rings Trilogy’ DVD. Well, I adore the books and Mr. Tolkien himself. And I give credits to Mr. Jackson to make such an incredible and unforgettable trilogy based on the books. Yet, The Collector Edition still has so much to give to the fans of the Middle Earth creatures such I am (a fan, not a Middle Earth creature). It’s been in my wish list since christmas 2004, and I know that I’m gonna get it someday, somehow. Haha!
  6. Mac Book. Oh, I know I won’t get it from any of my friends.. But still, I’ve been craving for this item since.. well, a couple of months now. Yea. I was craving for the red one, but since Miss Echa’s already own it, so other colors will do. Yea, I guess it’s that time of the year that I can call my Dad and ask, ‘Daddy, I want a Mac Book. NOW!’ Haha. Such a spoiled brat I am.
  7. Sean Lennon’s ‘Friendly Fire‘ CD. Man, I love this gentleman. I love all his songs, which I downloaded (illegally) from the internet. I think having an original copy of the album will be awesome. And may be a ticket to see his upcoming performance will be great too (since I missed Lollapalooza!)…
  8. Kelinci. Yes, I want a bunny for my birthday. I’m gonna name it… Lolla (if it’s a girl); and Rambo (if it’s a black, macho male-bunny). Well, I had a little bunny when I was little. But I didn’t do well with them. If someone get me a bunny on my birthday, I promise I’ll do my best to take care of it!

Well, since 8 is my favorite number, I’m gonna stop the wish list right here. But it pretty much gives you some idea of what I like and what I dislike, aiight? Well, I’m not hoping for an extravagant birthday this year, just a nice time with friends and family, I hope. But it’s okay to dream of an extravagant presents, isn’t it?

Have a great life, people!