Pelangi untuk Peri Kecil
Saturday, February 23rd, 2008Seorang Peri Kecil
yang pergi meninggalkan sarangnya terlalu cepat. Sayapnya belum lagi tumbuh
sempurna, namun ia nekat terbang meninggalkan sarangnya yang nyaman. Tidak. Sarang
itu tak lagi hangat. Dulu memang ia temukan kebahagiaan di sana. Namun telah beberapa lama, kehangatan
itu tak lagi terasa. Dan ia sering menemukan dirinya terkapar lemah tanpa
perlindungan, kulitnya terasa perih dan rapuh diseka udara yang terdiam.
Peri Kecil
memutuskan untuk terbang, walaupun sayapnya belum berubah keemasan. Aku tak butuh sayap-sayap keemasan yang
hanya memikat pekatnya malam, aku hanya ingin melihat dunia dan warna-warna
pelangi yang mereka bilang indah mempesona, katanya. Dan terbanglah ia.
Peri-peri yang
lebih tua berusaha menahannya, katanya dunia luar itu keras, dan ia takkan bisa
menghadapinya sendirian. Terlebih lagi sayapnya belum tumbuh sempurna. Namun
Peri Kecil tak peduli, katanya ia akan temukan jalannya sendiri.
Dalam dingin dan
kegelapan, Peri Kecil melayang ke sana kemari. Mencoba mencari jalan di antara akar-akar pohon yang menjuntai
mengancam, di antara lolongan binatang malam yang menakutkan. Tanpa cahaya ia
berjalan, genggaman yang mengisi sela-sela jarinya hanyalah genggaman tangannya
sendiri.
Lalu ia melihatnya
ketika kegelapan malam berganti fajar, kemudian senja menyela di satu hari yang
melelahkan. Ketika kaki-kakinya tak kuat lagi berjalan, dan sayap-sayapnya
telah tersayat-sayat nyaris hancur menjadi abu; ia menemukannya: kaki pelangi
yang selama ini menghiasi mimpinya. Lengkungan indah yang menggambarkan
senyuman surga.
Seketika bahagia
mengisi setiap jengkal tubuh kecilnya. Sakit, perih, dan dingin tak lagi
terasa. Seolah tubuh mungilnya dapat menyerap energi dunia. Bibirnya membentuk
lengkungan serupa raga pelangi, itulah senyuman sang Peri Kecil yang telah lama
tak terlihat di wajahnya.
Peri Kecil tak
ingat lagi telah berapa lama ia berada di sana.
Yang ia ingat hanyalah, setiap harinya adalah momen-momen yang istimewa.
Baginya, terbangun di pagi hari dan melihat pelanginya masih ada di sana menemaninya adalah
kebahagiaan yang tak tergantikan. Bahkan di Kerajaan tempatnya berasal,
kebahagiaan semacam itu tak pernah ada. Nun jauh di sana, Sarangnya semakin terasa hampa
tertimbun debu, kesunyian, dan jaring laba-laba.
Ya, terkadang ia
teringat akan masa lalunya di sana.
Dan sebagian kecil dirinya mungkin masih merindukan. Tetapi ia ingat Sarang itu
tak dibangun di atas pondasi yang kokoh, lama kelamaan ia akan roboh ketika tak
tahan lagi menahan ego dan kerinduan. Sarang itu menjadi fenomena yang terlalu
menyedihkan, hingga Peri Kecil memutuskan untuk pergi. Peri Kecil terkadang
merindukan hari-hari indah yang pernah dilewatinya di sana. Tapi bila mengingat fenomena yang
menyedihkan itu, wajahnya jadi tampak murung, dan Pelangi tak suka melihatnya
muram.
Ketika malam tiba,
Pelangi kirimkan Purnama untuk terangi hatinya. Biarkan ia terlelap dalam mimpi
indah disinari cahaya. Dalam tidurnya ia memeluk Pelangi, ia dekap erat-erat
dan tak dibiarkannya pergi.
Suatu hari Peri
Kecil terbangun menyadari sayapnya tlah tumbuh dengan sempurna. Rupanya
kebahagiaan merupakan obat terbaik untuk semua luka. Peri Kecil terbang dengan
riang meniti indahnya dunia.
Satu hal yang
membedakannya dengan peri-peri lain di dunia: sayapnya tak berubah keemasan;
melainkan berwarna-warni serupa rona Pelangi.