Archive for December, 2007

Famous Words

Thursday, December 27th, 2007

You might have heard this quotation too many times:

"That which does not destroy us makes us stronger."

However, may be only few of us know who really said it. Well, I’m telling you this, as I only found it out myself: it was Nietzsche’s.

Perbincangan Usia Dua Puluh

Sunday, December 23rd, 2007

Ini adalah secuplik perbincangan antara saya dan sahabat lama. Sahabat yang sudah saya kenal sejak kami masih berseragam. Hanya saja waktu berlari dan semuanya berubah. Kini memasuki usia dua puluh… Dan semuanya terlihat berbeda.

So. Here goes:

vienz: hahaha. parah..
k a n i a kanaya: gw jg mikirny sm
k a n i a kanaya: klo dia trs brpikir ky skrg, ntr dia g sdr klo time flies dan umur kita g ubahnya ky perawn tua
vienz: parah lo. hahahahaha
k a n i a kanaya: gw jg mikir gt kok ttg diri gw
vienz: emang lo berpikir mo nikah umur berapa?
vienz: *dulu, kalo ditanya, gw bakal jawab: 25-26,
vienz: tapi sekarang?
vienz: bo, 25 tuh… kurang dari 5 taun lagi yes?
vienz: hakhak
vienz: emang udah siap?
k a n i a kanaya: BLOOOM
vienz: jadi bunging
k a n i a kanaya: yg ttg gw jg
k a n i a kanaya: gw kdg msh mikir
k a n i a kanaya: ‘gmn klo..’
vienz: klo apa ciing?
k a n i a kanaya: klo tnyata slama ini gw cm wasting time
vienz: kok, gitu?
k a n i a kanaya: yaaa cm mikir aja
k a n i a kanaya: just me n my foolish brain
k a n i a kanaya: hoho
vienz: hoho.
vienz: kita semua pasti pernah mikir kaya gitu kok
vienz: tapi kalo kita terus mikir kaya gitu
vienz: nanti semuanya beneran cuma a waste of time..
vienz: mending
k a n i a kanaya: gw pgn sebebas2nya sblm nikah
vienz: you live the life to the fullest
k a n i a kanaya: jd ntr gw bs fokus m kluarga gw n i live my life with a big smile n pleasure
vienz: hohoho..
vienz: bagus kok
vienz: tapi ati2.. tau2 lo ngelewatin limit lo
vienz: untuk bebas
k a n i a kanaya: ?
vienz: cuz freedom doesn’t have no limit
vienz: maksudnya
vienz: ada batasnya lo bisa merasakan kebebasan itu
k a n i a kanaya: yup my limit is limitless
k a n i a kanaya: haha
vienz: misalnya, batas umur
k a n i a kanaya: kebebasan bertangung jawab mun ceunah ppkn mah
vienz: haha
vienz: yups
vienz: batas umur… lo bisa aja pengen bebas terus
vienz: eh, tau2 umur lo udah kepala 3
vienz: dan lo belum nikah *knock on wood*
vienz: dan semua orang sudah berharap menimang cucu dari lo
vienz: hohoho
k a n i a kanaya: yeah
k a n i a kanaya: mungkin lbh enak lg klo ntr lo nikah sama org yg sejiwa ya
vienz: hahaha, iya.
k a n i a kanaya: lo bs bebas even sesudah lo nikha, dan lo punya batas
k a n i a kanaya: batas lo : a place called home.
vienz: dan, dia bisa ngingetin lo kalo lo sudah melebihi batas
vienz: yups
vienz: njis, perbincangan usia 20..
vienz: hakhakhak
k a n i a kanaya: njis jijik
k a n i a kanaya: r we old vin?
vienz: yeps.
vienz: sure we are…
vienz: or may be it’s just a next phase
k a n i a kanaya: sumtimes i laugh so hard at ABG gaul
vienz: you know, we cannot be teenagers for our whole lifetime
vienz: hakhak
k a n i a kanaya: but sumtimes i envy them
k a n i a kanaya: gw iri dgn semua kpolosan mrk
k a n i a kanaya: dan waktu panjang yg mrk punya
k a n i a kanaya: gw?
k a n i a kanaya: ditanya kapan nikah. damn,,.
vienz: hahaha, betul, betul!!
vienz: abg labil itu merasa, mereka lagi krisis identitas
k a n i a kanaya: dan kita? krisis status
k a n i a kanaya: AHAHA
vienz: padahal? mereka baru ngerasain sedikit dari hidup
vienz: sebenernya kita tauk, yang lagi krisis
vienz: hakhakhak
vienz: kita harus cepat2 menyelamatkan diri, kan
vienz: hohoho
k a n i a kanaya: kyny gw kurang ajar deh m Allah
k a n i a kanaya: suka ga bersyukur
vienz: hmm… all human beings are
vienz: hoho
vienz: emang sih, kan.. kalo udah di bawah kita pasti inget Allah
vienz: eh, giliran lagi di atas? lupa deh..huhu
vienz: padahal kan ga boleh
k a n i a kanaya: pastiii
k a n i a kanaya: cuma inget dunia
k a n i a kanaya: giliran down sibuk nangis2 di atas sajadah
k a n i a kanaya: w r pathetic y vin
k a n i a kanaya: haha
vienz: hahahaa… bener, bener
vienz: kan, omongan hari ini serius sekali
vienz: kenapa kamu teeeh???
k a n i a kanaya: ga tau viiin
k a n i a kanaya: gloomy gitu ya?
k a n i a kanaya: hohohoh
vienz: huhuhu..
k a n i a kanaya: i don’t talk seriously lot
k a n i a kanaya: cm org2 tertentu yg bs gw ajak ngobrol serius
k a n i a kanaya: u r, one of a kind
vienz: thanks…
vienz: gw jg jarang2 kok, bisa serius ngobrol ma orang
k a n i a kanaya: iya jg y vin
k a n i a kanaya: qta serius bnr yajk!
vienz: huahaha… kapan coba kita kayak gini?
k a n i a kanaya: haha
vienz: pas di 2-6 aja obrolan teh sampah kabeh
vienz: hahaha
vienz: dasar abege ga ngerti hidup…
vienz: *emang sekarang ngerti?
vienz: hahahah

Begitulah. Betapa lucunya ketika kau menyadari, tak ada yang sama kini…
Ahh,, nice chat, my dear friend.

At The First Sight…

Saturday, December 15th, 2007

a quote from ‘Closer’:

"If you believe in love at the first sight, you’ll never stop looking…"

Makes me think. And I came to realization that, may be it’s true. May be it’s you. It all occurs to me, loud and clear, that may be that was it: love at the first sight. The thing that I got to you since the first time we met. May be I just never realized it, but you were already there: in my mind. How can you wander around my mind all the time, and I never realize it? I don’t know. May be it’s just the way it has to be.

Yes, now I DO believe in love at the first sight.

Only, sometimes you just don’t find them immediately. But if your mind can’t stop thinking about him after the first encounter, just wait. The time will tell until you’re ready. To really love him, to be really loved by him.

Oh, how can I not be thankful, for meeting you that day. And be loved by you someday…

Ketika…

Friday, December 7th, 2007

Satu tayangan di televisi membawa ingatan saya kembali ke tiga tahun yang lalu. Ketika itu ayah, ibu, adik-adik, dan beberapa sanak saudara yang lain melepas kepergian saya di bandara. Saya teringat akan setiap tetes mata. Mereka siratkan tanya, bilakah Dia kehendaki kembali perjumpaan? Pelukan erat tanpa henti dari mereka mengatakan semua tanpa berjuta kata. Semua cinta, rindu, doa, harapan, dan ketakutan mengisi relung-relung pikiran dalam pelukan yang terasa berlangsung selama seribu detik itu.

Dan air mata menetes lagi hari ini. Teringat akan detik itu.

Lalu saya tersadar dan kembali ke kenyataan. Bahwa peristiwa itu telah berlalu bertahun-tahun yang lalu. Bahwa itu adalah titik tolak menuju ke saat ini. Mungkin saya berubah, mungkin saya masih orang yang dulu. Hanya mereka yang mengerti. Tetapi saya jadi teringat kembali akan harapan-harapan itu. Hanya saja pemahamannya lebih berkembang kini.

Yang saya lihat hari itu adalah orang-orang yang mengasihi saya meletakkan harapan-harapan terbesarnya di pundak saya ketika saya melangkah ke gerbang yang membawa saya ke masa depan. Tetapi yang tidak terlihat lebih besar dari itu.

Hal-hal yang tidak terlihat adalah harapan orang-orang yang merasa hak hidupnya dirampas oleh otoritas. Mereka adalah orang-orang yang merasa teradili oleh ketidakadilan, dikebiri oleh keputusasaan. Orang-orang yang tidak saya kenal, bahkan hanya saya temui selintas di tengah debu-debu kepengapan ibu kota. Orang-orang itu juga menaruh harapannya di pundak saya, di pundak kami, segelintir pelajar yang diberi kesempatan lebih untuk membawa perubahan.

Lalu saya mempertanyakan kembali pada diri sendiri, di manakah saya kini? Apa yang telah saya lakukan untuk membawa perubahan tersebut, dan saya merasa malu sendiri:

Untuk apa kedua tangan ini, jika hanya memperkaya diri sendiri?
Untuk apa telinga di kanan-kiri, jika tak mendengar tangis saudaramu di sini?

Saya harap saya tak akan mengecewakan harapan-harapan itu lebih jauh lagi. Semuanya dimulai di sini. Saya hidup bukan untuk diri sendiri…