Satu tayangan di televisi membawa ingatan saya kembali ke tiga tahun yang lalu. Ketika itu ayah, ibu, adik-adik, dan beberapa sanak saudara yang lain melepas kepergian saya di bandara. Saya teringat akan setiap tetes mata. Mereka siratkan tanya, bilakah Dia kehendaki kembali perjumpaan? Pelukan erat tanpa henti dari mereka mengatakan semua tanpa berjuta kata. Semua cinta, rindu, doa, harapan, dan ketakutan mengisi relung-relung pikiran dalam pelukan yang terasa berlangsung selama seribu detik itu.
Dan air mata menetes lagi hari ini. Teringat akan detik itu.
Lalu saya tersadar dan kembali ke kenyataan. Bahwa peristiwa itu telah berlalu bertahun-tahun yang lalu. Bahwa itu adalah titik tolak menuju ke saat ini. Mungkin saya berubah, mungkin saya masih orang yang dulu. Hanya mereka yang mengerti. Tetapi saya jadi teringat kembali akan harapan-harapan itu. Hanya saja pemahamannya lebih berkembang kini.
Yang saya lihat hari itu adalah orang-orang yang mengasihi saya meletakkan harapan-harapan terbesarnya di pundak saya ketika saya melangkah ke gerbang yang membawa saya ke masa depan. Tetapi yang tidak terlihat lebih besar dari itu.
Hal-hal yang tidak terlihat adalah harapan orang-orang yang merasa hak hidupnya dirampas oleh otoritas. Mereka adalah orang-orang yang merasa teradili oleh ketidakadilan, dikebiri oleh keputusasaan. Orang-orang yang tidak saya kenal, bahkan hanya saya temui selintas di tengah debu-debu kepengapan ibu kota. Orang-orang itu juga menaruh harapannya di pundak saya, di pundak kami, segelintir pelajar yang diberi kesempatan lebih untuk membawa perubahan.
Lalu saya mempertanyakan kembali pada diri sendiri, di manakah saya kini? Apa yang telah saya lakukan untuk membawa perubahan tersebut, dan saya merasa malu sendiri:
Untuk apa kedua tangan ini, jika hanya memperkaya diri sendiri?
Untuk apa telinga di kanan-kiri, jika tak mendengar tangis saudaramu di sini?
Saya harap saya tak akan mengecewakan harapan-harapan itu lebih jauh lagi. Semuanya dimulai di sini. Saya hidup bukan untuk diri sendiri…