Archive for October, 2007

A Night to Remember

Wednesday, October 31st, 2007

Thanks..
for the sweet confession,
and for the long talk in my living room,
and for the flower in the rain,
and for all the moments you gave to me that night.

Thanks..
for making me smile again.

Salah

Tuesday, October 30th, 2007

Semua yang saya lakukan adalah kesalahan. Setiap langkah yang saya ambil ternyata membawa diri saya terjatuh di kemudian hari.

Ternyata dunia belum mau berhenti menghukum saya akan kesalahan masa lalu.

Ketika saya akhirnya melupakan satu nama, orang lain tetap menghubung-hubungkan setiap perbuatan saya dengan nama yang sama. Ketika saya berusaha memperbaiki hidup saya lagi, mereka mengingatkan satu perkataan yang terucap entah berapa lama yang lalu. Sebuah perkataan yang lahir dari kebencian, emosi yang timbul dari sakit hati. Lalu ketika saya berusaha mengobati luka tersebut sendiri, saya rasa mereka belum mau membiarkan saya sembuh.

Mungkin lebih baik saya diam. Bersikap skeptis jauh lebih mudah dan menyenangkan.

Boys.. Boys.. Boys

Monday, October 22nd, 2007

Siang yang biasa.

Dara, Keisha, dan saya sedang melaju di antara
kemacetan kota Bandung di jam makan siang. Rencananya kami mau
senang-senang hari ini, menghabiskan uang lebaran dengan makan siang di
‘tempat yang jauh’. Oh iya, kalau buat mahasiswa seperti kami ‘tempat
yang jauh’ itu sama dengan ‘tempat yang (agak) mahal’. Seperti biasa
Dara duduk di kursi pengemudi, Keisha di sebelahnya, dan saya di kursi
belakang, tenggelam dalam pikiran saya sendiri.

Lalu radio memutarkan lagu ‘Cinta Begini’ yang dilantunkan oleh artis ibukota, Tangga.

Saya dan Dara semangat menyanyi bersama. Apalagi di bagian
‘…ku tak bisa terimaaa
bila terus tak setiaaa
Mengkhianati diaa..
menduakan cintaaaaa…’

Keisha
hanya geleng-geleng melihat kedua temannya yang tak beres. Seperti
biasa kalau kami bertiga sudah berkumpul kami pasti bergosip ria. Siang
ini Dara, seperti biasa, membuka sesi nge-gosip kami dengan pekikannya
yang khas.

‘Aahh!! Kalian udah pada denger kan kabar terbaru si Danu?’ katanya bersemangat.

‘Hahaha..
kenapa lagi tuh orang?’ tanya Keisha. Saya hanya tersenyum tipis
mendengar nama orang yang pernah ‘hampir’ mampir dalam hidup saya itu.

‘Dia lagi deket sama si Mala kan, anak jurusan XX itu?’ jawab Dara.

‘Haha, iya ya? Gw udah lama tu ga stalking makhluk itu,’ kata saya.

‘Mala? Bukannya Mala udah punya cowo yaa? Hiih, kenapa si tuh orang ganggu cewe orang aja?’ tukas Keisha begidik.

‘Cape deeh,’ kata Dara.

Saya hanya tersenyum sinis. ‘…lagi.’ gumam saya.

‘Gw
heran deh sama tu orang. Pas lagi punya cewe, selingkuh. Pas lagi
single, bikin pacar orang selingkuh. Maunya apa sih?’ tanya Dara
sengit. Sementara lalu lintas sudah mulai lancar di depan sebuah pusat
perbelanjaan yang kami lewati.

‘Hmm. Mungkin dia ngga bohong
ketika dia bilang ’sayang’ ke pacar-pacarnya dulu, tapi dia adalah
orang yang bermasalah besar dengan yang namanya komitmen,’ jawab saya
bijak. Saya tidak pernah mengenal Danu terlalu dalam, tetapi saya cukup
tahu bagaimana kelakuan cowok yang satu itu. Lust IS his passion.

Hmm. Saya jadi teringat akan satu orang lain lagi yang cukup bermasalah dengan komitmen.

Dia
adalah seseorang yang pernah berlutut dan menangis di depan saya karena
menyesali perbuatannya. Dia pernah mengkhianati kepercayaan pacarnya,
tetapi menolak sebutan ‘playboy’ menempel pada dirinya. Dia yang punya
sejuta pembenaran atas kejahatannya. Dia yang hanya ingin
bersenang-senang dengan seorang gadis yang benar-benar berharap banyak
padanya. Itu, dan dia masih saja mengulangi kesalahan yang sama. Oh ya,
ia juga membuat pacar seseorang berselingkuh. Tapi itu biarlah cerita
mereka.

Saya hanya tertawa kecil mengenang cerita-cerita yang
saya ketahui tentang ‘Pria dan Komitmen’. Tentu saja, judulnya bisa
juga dibalik: ‘Wanita dan Komitmen’ dengan saya (dan Dara) sebagai
subjek pelakunya. Tetapi ego saya akan membenarkan: ’semua terjadi
karena satu alasan’. Frase yang terakhir itu saya pelajari juga dari
Danu.

Saya jadi teringat curhatan saya pada si Radhit, pacar bohongan saya di kampus, beberapa hari yang lalu. Waktu itu saya protes tentang keegoisan cowo yang telah lumrah terjadi di masyarakat kita: kenapa cowo tuh OGAH RUGI banget? Maksudnya, kenapa sih cowo tu ga mau ngelepasin yang lama sebelum dapet yang baru???

(Pertanyaan ini merujuk pada suatu sosok yang bilang ‘masih sayang’ padahal jelas-jelas lagi deketin seseorang)

Eh si ‘Pacar’ malah dengan santainya bilang, ‘Ya cowo tuh emang egois, lagi. Buktinya gw, lagi ngedeketin lagi mantan gw tapi ga mau ngelepasin yang sekarang.’

Grr. Ternyata saya salah curhat. Ya, ya, si Pacar Bohongan ini memang sama aja buayanya sama cowo-cowo kebanyakan. Makanya saya ma dia ga maju-maju (padahal emang ga cocok aja. HAHA)

Lalu tiba-tiba saya jadi teringat akan seorang sahabat saya dari kota sebelah.

Hmm, bagaimana ya mendeskripsikannya?

Dia
adalah cowo yang tahu bagaimana berbicara kepada wanita. Seorang yang
pemikirannya hebat dan dalam. Seorang yang pengetahuannya luas sekali.
Seorang yang sangat bijak, karena ia sendiri tak tahu kebijakan
dirinya. Saya dan orang-orang lain yang mengagumi ia akan mengakui
kepandaiannya. Tetapi dia sendiri tidak menyadarinya.

Ia yang suatu malam bertanya pada saya, ‘Gimana sih, cara menunjukkan ke seseorang kalau kita suka?’

Satu
pertanyaan yang saya tak pernah kira akan terlontar dari mulutnya.
Maksud saya, dia adalah cowo yang dikagumi banyak cewe di
lingkungannya. Rasanya tidak sulit bagi orang seperti itu untuk
mendapatkan pacar.

Tetapi setelah dia bercerita lebih lanjut,
saya lalu mengerti keadaannya. Dengan sikapnya yang amat-sangat gentle,
banyak cewe jadi salah pengertian akan sikapnya, dan menaruh harapan.
Dan ketika cewe itu menyadari bahwa cowo ini tidak bermaksud apa-apa
padanya, cewe itu kecewa dan menyebutnya ‘Tukang Gombal’.

‘Itu sih, mereka aja yang ga mengenal kamu cukup baik,’ kata saya padanya.

‘Maksudnya?’

‘Yah,
orang seperti saya, yang bisa dibilang kenal sama kamu, mengerti kok
kenapa kamu bersikap begitu. You’re just a really good person, and they
can’t understand it. Mereka harus belajar untuk menerima kebaikan
seseorang atas dasar tulus; nggak semua orang baik bermaksud
macam-macam kan?’ kata saya memberikan penjelasan. Ia tidak begitu
menangkap maksud saya malam itu karena obrolan kami disela oleh makanan
pesanan kami yang sudah datang, dan teman-teman yang lain sudah ribut
mengajak kami membicarakan topik-topik yang berbeda. Ya sudahlah, toh kami bisa membahasnya lagi lain kali.

Oh iya, Hangga namanya. Teman baik saya itu.

Orang
sebaik Hangga, yang kebaikannya sering disalahartikan sehingga ia
mendapat predikat yang tak seharusnya. Orang sebaik Hangga, yang ketika
akhirnya jatuh cinta pada seseorang, tak mengerti bagaimana seharusnya
bersikap karena orang lain akan mengira perbuatannya hanyalah gombal
belaka. Tentu saja, saya dan Hangga hanya berteman baik saja karena
saya entah bagaimana bisa mengerti mengapa ia bisa bertindak atas dasar
tulus. Saya akui Hangga adalah orang yang sangat saya kagumi
pemikiran-pemikirannya, tetapi saya dan dia akan selalu menjadi teman
baik saja.

Sungguh tak sabar ingin melihat cowok se-’absurd’ Hangga jatuh cinta.

Saya
begitu asyik tenggelam dalam kenangan-kenangan sampai-sampai tidak
menyadari bahwa kami sudah tiba di tempat yang dituju. Dara dan Keisha
masih menggoda saya tentang Danu, tetapi saya tidak peduli lagi.

Boys will always be boys. No matter what we say.

Sekarang waktunya makan siang. =)

***


(keterangan: kisah ini merupakan fiksi belaka. jika ada kesamaan cerita dan peristiwa, ya itu mah emang disengaja. HAHAHA)

Nothing Better

Tuesday, October 9th, 2007

It was a quote from a movie called ‘Jomblo’ that I remember: ‘If I
always look for someone better, one day, I’d leave you for someone
better too…’

It raises a question for me: ‘Why do we always want to look for someone better?’

In terms of relationship, we tend to look for someone better;
someone nicer, someone prettier, someone richer — that we forgot the
root of the relationship itself: ‘to love somebody the way they are’.

Another quote from a song from my favorite band, Copeland:

'It occured to me at oncethat love could be a great illusionthat makes fools of brilliant thinkersevery day'(Copeland - Eat, Sleep, Repeat)

When we’re in love, we tend to be blinded by the thousand lights surrounds us; that’s why Mr Aaron Marsh says that ‘love  makes fools of brilliant thinkers everyday‘.
In fact, when we fall in love, we don’t think. Should we care if he
should have treated us better? No. Should we care if he/she has already
had a significant other? Hmm, NO. Seriously, we’re so blind that
sometimes we don’t know if it is our eyes, our heart, our brain, or
purely passion / lust that takes all the action, when we’re in love.

When
we’re in love, we would do anything for him/her. We don’t see their
flaws, we don’t care about it. What matters is, showing the good side
of ourself; so that we can draw their attention. In this matter, we are
no different than animals.

Back to subject: something better.

Of
course it is our nature to fight for something better. It’s the nature
of humanity: nothing is good enough. Even when it comes to
relationships.

In the beginning of every relationship, we tend
to be extremely happy with him/her. Everything about him is important,
never mind the rest. Flaws are excusable, or at any rate,
understandable. As long as he loves me, that’s all that matters.

Later
in the days, as you have been going out for years, nothing seems to be
as excusable anymore. You will see their flaws as extremely important
to be fixed, due to the durability of the ongoing relationship itself.
Then comes the day when you try to look for something better; someone
better. And that’s when you see the world in a different perspective.
You will see that there are other human beings that’s better than him. Suddenly you feel so naive.

But
if you think about it again –with a clearer mind– actually, it
doesn’t matter anyway. You know, if there are someone better out there.
If he is the best for you, no matter what his flaws are, if you love
him just the way he is, you won’t care about other guys that is hotter,
nicer, more romantic, etc. If love should be honest and pure, then keep
it that way and bring it along as you go.

Nothing better, no one’s better; as long as he’s the best for you. You shouldn’t care less.