Archive for August, 2007

Our Deepest Fear

Thursday, August 30th, 2007

by Marianne Williamson


fromA Return To Love: Reflections on

the Principles of A Course in Miracles

Our deepest fear is not that we are inadequate -


our deepest fear is that

we are powerful beyond measure.

It is our light, not our darkness, that most frightens us.

We ask ourselves, ‘Who am I to be
brilliant, gorgeous, talented, fabulous?’

Actually, who are you not to be?

You are a child of God.

Your playing small doesn’t serve the world.

There’s nothing enlightened about shrinking
so that other people won’t feel insecure around you.




We are born to make manifest

the Glory of God that is within us.

It’s not just in some of us; it’s in everyone.


And as we let our light shine, we unconsciously


give other people permission to do the same.


As we are liberated from our own fear,


our presence automatically liberates others.

Pesan-Pesan yang Takkan Pernah Tersampaikan

Tuesday, August 28th, 2007

Untuk Kamu yang Cantik,
Ya. Kamu cantik. Kamu tegar. Kamu hebat. Saya salut sama kamu. Saya sedih melihat kamu sedih, karena ironinya, seseorang bahagia di sini. Walaupun mereka bersikeras bahwa kenyataan tak seperti apa yang terlihat, tetapi rasa sayang itu dapat terasa siapa saja yang berdiri di sekitar mereka. Tapi kamu tetap bertahan. Kamu tetap percaya. Pikirkan saja lagi, manis, siapa yang seharusnya menjaga perasaanmu? Well, I wish I was stronger, just like you.

***

Untuk Kamu yang Sangat Baik,
Kemilaumu pernah menarik perhatian. Jujur saja, ketertarikan itu pernah ada. Tapi lenyap sebelum ia menyergap hati saya lebih jauh. Mungkin kamu seperti bintang fajar: kemilaunya terlalu cepat menghilang dalam terangnya pagi sebelum sempat menawan hati mentari. Saya hanya tak sampai hati mengatakan ini pada kamu…

***

Untuk Kamu yang Menunggu,
Gadismu adalah jiwa bebas yang akan terus berlari di tengah padang, dan ia takkan berhenti. Aku pun menangis melihatmu terluka; menantinya tanpa kepastian. Tetapi mungkin kau harus relakan, ia takkan pernah jadi milikmu karena kamu terlalu berharga baginya.

***

Untuk Kamu yang Berbohong,
Ya, aku memaafkanmu atas kebohongan itu. Bukan karena lemahnya hati kali ini, tetapi karena aku memutuskan untuk tak peduli. Satu hal yang perlu kamu tahu: waktu itu kamu tak perlu membohongi aku — mengatakan hal-hal yang kamu ingin aku percaya, karena tak akan ada bedanya. Aku telah pergi bertahun-tahun yang lalu, bukan? Dan hingga kini pun aku belum memikirkan untuk kembali. Aku hanya ingin menjaga sesuatu yang berharga. Seharusnya kamu tahu itu.

***

Untuk Kamu yang Tak Pernah Peduli,
Bagimu ini semua hanya permainan? Baiklah, akan aku katakan pada kamu: ini juga permainanku. Kamu kira aku senaif itu, selalu jatuh dalam ritme permainanmu? Tidak, sayang, aku pun senang bermain di waktu senggang. Aku memang belum seahli dirimu dalam permainan ini, dan aku pun tak berniat menjadi seorang yang ahli. Hanya saja seharusnya kamu tahu, aku tidak sebodoh itu. Berkat kamu, aku menjadi orang yang tak peduli kini.

***

Untuk Kamu yang Pernah Ada,

Hari ini seharusnya jadi salah satu hari penggenap kebahagiaan kita. Tetapi saya telah memilih untuk mengakhirinya sebelum hari ini tiba. Hanya ingin meminta maaf atas semuanya, dan berterima kasih untuk semuanya. Seperti yang selalu saya katakan, dari kamu saya banyak belajar. Semoga kita tak akan pernah berhenti belajar. Selalu, sayang kamu.

***

Untuk Kamu yang Tak Mudah Percaya,
Perlu waktu untuk menyembuhkan luka hatimu, dan sekarang tampaknya dunia takkan berhenti mengecewakanmu. Mungkin itulah cara dunia menyembuhkan luka hati: dengan membuatmu terbiasa dengan rasa sakitnya. Belajarlah dari proses itu, mungkin kamu akan lebih berhati-hati untuk tak menyakiti hati seseorang di kemudian hari…

***

ps: pesan-pesan ini takkan pernah tersampaikan karena hanya teredam dalam pemikiran dan akan tersaput debu-debu pikiran lainnya di kemudian hari…

Menyebalkan

Thursday, August 23rd, 2007

Ada satu berita di televisi yang bikin saya gemas dan geram sekali hari ini. Jadi ada sekelompok orang yang berunjuk rasa di Kedutaan Besar Arab Saudi. Orang-orang ini memiliki istri/anak/anggota keluarga yang dikirim menjadi TKI di Arab Saudi dan sebagian besar menjadi korban kekerasan, bahkan ada yang sampai meninggal. Saya kesal dan bosan sekali mendengar kabar sejenis, baik di televisi maupun di surat kabar. Bosan kenapa?

Begini. Saya sangat tidak setuju dengan program pemerintah yang menawarkan tenaga kerja Indonesia untuk dipekerjakan di luar negeri dengan upah yang murah. Sangat murah, bahkan, untuk standar pekerja di negeri tersebut. Udah gitu di luar negeri, diperlakukan semena-mena oleh majikannya. Ketika berusaha mempertahankan diri, malah ditangkap dan dihukum mati.

Ketika saya bilang, "Kenapa sih, pemerintah masih ngirimin orang kita buat kerja jadi TKI di luar negeri?" Ibu saya menjawab, "Ya, di negara sendiri mau kerja apalagi, Vien?"

Nah, itu dia.

Di negara sendiri udah ngga ada lowongan kerja bagi rakyatnya sendiri. Makanya mereka dijual ke luar negeri: pekerja skillful (untuk lahan pekerjaan tertentu ya?), mau bekerja dengan upah murah. Voila! Laku keras di negara-negara yang warga negaranya sendiri ogah dijadikan asisten rumah tangga (baca: pembantu). Toh semurah-murahnya upah mereka di sana, kalo dirupiahin bisa berjuta-juta. Orang-orang lugu itu tentu saja tergiur dengan penawaran demikian.

Padahal nyatanya, undang-undang negara kita terbukti sangat lemah mengatur bidang yang satu ini. Udah ngga usah disebutkan lagi berapa banyak kasus TKW yang disiksa dengan kejam, kabur, divonis hukuman mati karena membunuh majikan, ditelantarkan, dijadikan pekerja seks, dan diperlakukan secara tidak manusiawi di negeri orang.

Saya bukan anak hukum dan ngga hafal pasal-pasal maupun ngerti peraturan perundang-undangan di Indonesia. Saya hanya senang mendengar dan membaca berita. Dari berita, toh sudah banyak diberitakan kasus-kasus yang membuktikan betapa lemahnya penegakan hukum di Indonesia (ini ngga hanya berlaku untuk kasus TKW tentunya). Kalau saja pemerintah kita menerapkan undang-undang mengenai Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri, tentu kasus semacam ini bakal sedikit sekali angkanya. Misalnya, seharusnya pemerintah menetapkan upah minimum yang manusiawi untuk mereka, mengatur perlindungan hukum yang jelas bagi tenaga kerja itu jika terjadi penyiksaan atau perlakuan tidak menyenangkan dari majikan mereka, dan banyak lagi yang harus dibenahi oleh pemerintah.

Itu preventifnya. Tapi saya lebih setuju kalau program ini ditiadakan lagi, atau minimal semakin dikurangi kuotanya dari tahun ke tahun hingga akhirnya tidak perlu ada lagi.

Masalahnya sektor ketenagakerjaan ini merupakan salah satu penyumbang devisa terbanyak (dan termudah) bagi negara kita. Ya, memang. Tapi jika kita hanya memikirkan keuntungan materiil, apa bedanya kita dengan penjajahan Jepang dan Belanda dengan kerja rodi dan romusha-nya? Di mana hak warga negara Indonesia untuk mendapat perlindungan dan keamanan dari negaranya, tanah airnya sendiri?

Ironis sekali, ketika pemerintah sedang menjalankan pasal 27 Undang Undang Dasar yang mendukung hak setiap warga negara untuk mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan, nyatanya negara mengesampingkan hak-hak kemanusiaan mereka sendiri dengan tidak memberlakukan peraturan hukum yang lebih tegas atas korban-korban penyiksaan itu.

Selain itu, kelemahan program ini adalah pada pembentukan mental para tenaga kerja itu. Mereka memang diberi pelatihan bahasa, keterampilan, dll sebagai persiapan untuk bekerja di negara tersebut; tetapi bagaimana dengan persiapan mental mereka? Bagaimanapun juga sebagian besar peserta program ini adalah wanita-wanita lugu dari desa yang tidak pernah menginjak negara lain, apalagi hidup di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang luar biasa berbeda dari budayanya sendiri. Saya rasa program pembinaan yang mereka lewati tidak meng-cover topik ini. Tidak heran jika terjadi culture shock yang hebat yang melanda mereka di kemudian hari.

Sudahlah. Hentikan saja sektor penjualbelian tenaga manusia ini. Daripada kita membiarkan mereka ‘diperbudak’ di negara orang, mengapa tidak kita perkuat pembangunan negara kita sendiri saja? Proyek-proyek pembangunan di daerah juga akan membutuhkan tenaga kerja, dan dengan sendirinya tercipta lapangan kerja (contoh program2 Presiden Roosevelt yang berhasil membawa negaranya keluar dari The Great Depression dengan program pembangunan rel kereta api trans-negara bagian pada tahun 1940-an). Lagipula, kalau pemerintah bisa menyelenggarakan pelatihan-pelatihan semacam itu, mengapa tidak mereka adakan juga pelatihan2 semacam padat karya untuk masyarakat agar dapat survive dan membuka lapangan kerja mereka sendiri?

What a great Irony.

Ketika kita baru saja merayakan 62 tahun kemerdekaan negara kita secara gegap gempita, nyatanya kita belum juga terbebas dari penjajahan pemerintah atas warga negaranya sendiri.

(Setuju tidak setuju, harap comment!)

Terengah. Terkesiap. Terdiam. Tanpa Makna.

Monday, August 20th, 2007

Sekali lagi kepercayaan mengkhianati saya. Saya hanya bisa tertawa. Tanpa nyawa. Padahal lilin itu satu-satunya yang masih menyala. Ternyata hanya fatamorgana. Bohong belaka. Tipuan dunia. Muak, muak jadinya. Yang tersisa tinggallah sepenggal metafora: dunia tanpa warna.

Pada akhirnya saya kehilangan kemampuan untuk menyayangi.
Pada akhirnya saya kehilangan kemauan untuk mempercayai.

3 Tahun Kemudian

Thursday, August 16th, 2007

Senang sekali rasanya, melihatmu tiga tahun kemudian.

Masih di
kota yang sama, pada keadaan yang sama sekali berbeda. Membuat aku
berpikir kembali untuk membenci kota ini. Kau masih seseorang yang
sama. Dan aku merindukan diriku yang sebenarnya: diriku yang mencintai
kamu, kurasa.

Sungguh menyenangkan membalik waktu bersamamu.
Memutar ulang episode-episode yang membuat kita menangis, tertawa, dan
terharu bersama. Lalu tersenyum dan bersyukur karena kita pernah diberi
kesempatan untuk melalui momen-momen itu. Episode yang baru kuketahui
akan keberadaannya. Kisah-kisah yang begitu berharga, yang ingin kujaga
agar tak pernah ia rusak sampai kapanpun juga.

Melalui koridor
dan warna-warna yang berkilauan kita berjalan, seolah menyusuri lorong
waktu. Dan kamu serta aku membagi cerita, tentang hidup sesudah satu
cerita berakhir, hingga akhirnya kehidupan membawa kita ke tempat ini.
Hidup kita sekarang ini.

Cinta. Perjalanan. Haru. Tawa. Persahabatan. Bunga mawar merah. Perpisahan.

Tak
kusangka setiap baitnya sedemikian dalam, sehingga kini, meskipun aku
merindukannya aku tak berani untuk membukanya kembali dan merusak
keindahan imaji bernama memori…

Aku menyadari, kisah itu telah
ditutup di masa yang telah lalu. Aku hanya bisa bersyukur karena pernah
berada di dalam kisah itu, bersama kamu.

Sampai bertemu lagi, Dent.
Berkat kamu, aku kembali mencintai kota ini.

-Vey-

Mood Swings

Tuesday, August 14th, 2007

perubahan mood yang sangat fluktuatif. hhh…

Doaku Malam Ini

Wednesday, August 8th, 2007

Tuhan, tolong bebaskan saya dari perasaan ini. Terlalu banyak kesedihan yang saya pendam, bahkan raga yang terlihat kuat ini terasa sesak di dalam. Saya bukan orang yang religius, tetapi saya pun mendamba kedamaian religi.

Jika ini adalah penghapusan dosa yang Kau syaratkan untukku, maka kuatkanlah kedua kaki ini untuk tetap berpijak pada bumi, dan ukirkanlah senyum di wajah ini. Kuatkan hatiku untuk bertahan di dalam badai, karena kekalutan bukanlah jawaban atas persoalan yang Kau hadapkan padaku.

Pagi ini mentari tersenyum dan berkata, "Kau akan baik-baik saja.." Tetapi lalu senja datang dan secara bersamaan, satu tetes air mata jatuh kembali dan kedua lengan saya kembali merengkuh tubuh ini, menahannya agar tidak terjatuh lebih jauh.

Tuhan, apakah tak ada lagi di dunia ini yang bisa saya percaya, selain keberadaan-Mu?

Kata-kata tak berbalas makna. Perasaan hanyalah sesuatu yang sementara. Semakin besar keinginan untuk kembali mempercayai, semakin rapat halangan merintangi. Dan perlahan-lahan warna-warni yang indah itu melarut ke dalam kabut yang berpusar perlahan di dekatku. Hingga yang tersisa hanyalah hening yang memisahkanku dari kebisingan orang-orang. Menyisakan ruang untuk aku berlutut dan berdoa kepada-Mu, di tengah perlawanan atas air mata.

Tuhan, berikanlah kekuatan untuk bangkit dari luka, untuk mempercayai, dan untuk menerima cinta lagi suatu hari nanti.

Lebih dari itu, aku ingin kembali mencintai-Mu, Tuhan.. Aku telah berjalan jauh, dan kini saatnya untuk kembali.

Amin ya rabbal alamiin..