Beberapa waktu yang lalu, karena didaulat untuk memeriksa essay para calon kandidat AFS angkatan 2009 kelak (well, that makes me feel old!), saya jadi bernostalgia sedikit ke tahun 2003, tahun di mana saya mengikuti seleksi AFS.
Waktu itu topik essay yang saya pilih adalah "Arti Kebebasan Buatku". Judulnya sendiri saya ga terlalu ingat. Tapi saya masih sedikit ingat inti dari tulisan tersebut. Jadi waktu itu lagi hot-hotnya penyerbuan Amerika Serikat ke Irak. Waktu itu saya rasa seluruh dunia berharap perang tersebut hanya akan berlangsung dalam hitungan bulan mengingat kekuatan perang Irak jauuuh lebih kecil dan nggak sepadan dengan kekuatan tiga negara yang menyerbunya secara sekaligus (Amerika, Inggris, Australia, ingat?). Nggak ada yang menyangka kalau invasi itu belum akan berhenti juga setelah bertahun-tahun, dan Amerika akan membuang-buang anggaran belanja tahunannya (dan membuang-buang uang rakyat dari hasil Bond tentunya) kepada perang yang nggak jelas juntrungannya.
Anyway, kembali ke essay saya tentang kebebasan.
Waktu itu saya menulis kalo kebebasan adalah hak yang dimiliki setiap manusia sejak lahir. Maka ngga ada satu orang lain pun atau pun bangsa lain yang berhak untuk mengganggu kebebasan orang lain, ataupun kedaulatan bangsa lain. Di sini saya menyambungkannya kepada persoalan Irak-Amerika. Saya berargumen, Amerika ngga berhak untuk melakukan agresi militer ke Irak tanpa alasan (waktu itu alasan mereka adalah mengenai keberadaan senjata pemusnah massal yang dimiliki Irak yang kemudian jelas tidak terbukti), karena Irak adalah negara yang berdaulat penuh atas dirinya sendiri. Kalau rakyat Irak ingin membebaskan diri dari cengkraman rezim Saddam Hussein (propaganda AS nomor dua: ‘pasukan pembebas Irak’), maka seharusnya mereka sendiri yang mengusahakan hal tersebut. Dan jika rakyat Irak memang butuh bantuan pihak internasional, untuk apa ada PBB? Tapi tidak, Amerika Serikat tentu ingin menjadi polisi dunia. Mereka selalu menganggap dirinya paling benar, terlebih sejak mereka memenangkan Perang Dingin dengan Uni Soviet.
Kurang lebih begitulah isi essay saya saat itu. Essay yang saya tulis pada saat berusia lima belas tahun. Essay yang membuka sejuta kesempatan pada saya selanjutnya.
Essay yang, ironinya, membawa saya ke negara yang saya kritik habis-habisan mengenai kebijakannya.
Lalu, setelah saya setahun belajar di sana, apa perubahan yang saya dapat mengenai arti kebebasan?
Jawabannya: nggak ada yang berubah dari ‘makna kebebasan’ buat saya. Tapi ada satu yang bertambah: sudut pandang.
Selama satu tahun saya belajar di sana, saya melihat, merasa, dan memikirkan banyak hal dari sudut pandang ‘orang Indonesia yang kebetulan berada di Amerika’. Maksudnya, saya menempatkan diri pada kacamata, "apa yang akan saya lakukan jika saya berada di posisi mereka?"
Begini. Amerika adalah negara besar yang tidak lahir begitu saja kemarin sore. Mereka sudah melewati banyak proses yang membawa mereka ke posisi mereka saat
ini. Misalnya kayak masalah perbudakan yang menyebabkan civil war
antara utara dan selatan, atau 18th amendment tentang pelarangan
alkohol, lalu permasalahan tentang hak voting bagi wanita. Hal-hal
seperti ini telah memberikan pengertian pada mereka akan arti
‘kebebasan’ itu sendiri.
Walaupun ini tidak membenarkan. Karena apa yang mereka anggap benar belum tentu merupakan kebenaran bagi bangsa lain.
Kelemahannya, Amerika yang secara geografis "menyendiri" (terpisah dengan bangsa2 lain oleh dua samudera paling luas di muka bumi), cenderung membuat mereka lebih melihat ke dalam dirinya sendiri, dan tertutup terhadap dunia luar. Gini aja deh, mereka satu-satunya negara yang memainkan ‘foot ball’ dengan membawa bola di tangan, bukannya di kaki; dan matrix system yang mereka gunakan saja berbeda dengan kebanyakan negara lainnya di dunia. Itu contoh yang keliatan aja yah.
Tapi begini, kalau saja kamu lahir, hidup, dan mencari nafkah di suatu negara di mana wanita tadinya tidak diberi kebebasan berpolitik sama sekali; lalu melalui perjuangan yang amat panjang akhirnya kamu boleh berpolitik, apa yang akan kamu rasakan mengenai wanita di negara lain yang bahkan mengenakan celana jins keluar rumah saja tidak boleh?
Tentu reaksi awal kamu akan berpikir, ‘Itu tidak adil!’ Dan itu tidak bisa disalahkan. Begitu pula dengan pendapat wanita di Amerika, pendapat mereka tidak sepenuhnya benar, tapi tidak bisa disalahkan kalau mereka berpendapat demikian. Mengapa? Karena mereka tidak tinggal di negara tersebut. Mereka bukan wanita-wanita yang harus menutupi tubuhnya setiap hari, setiap saat. Mereka tidak tahu alasan dan latar belakang mengapa tradisi maupun peraturan itu berlaku. Sama seperti wanita di Irak, yang mungkin terbiasa dengan pakaian tertutup dan bertanya-tanya, mengapa wanita amerika membuat hal-hal seperti itu sebagai suatu permasalahan yang terlalu dibesar-besarkan.
Intinya adalah, setiap langkah dan setiap keputusan yang diambil seseorang dan suatu negara tentu sangat dipengaruhi oleh latar belakang sejarah dan nilai-nilai kehidupan yang pernah dilewatinya. Di sini sekali lagi kebebasan ditekankan. Kita tidak bisa men-judge tindakan pihak lain sebagai ‘benar’ atau ’salah’, hanya dengan melihat dari sudut pandang kita sendiri. Kita sebaiknya mempertimbangkan sudut pihak lain tersebut: apa yang membuatnya bertindak demikian?
Tapinya lagi, kita juga punya nilai-nilai yang kita anut. Entah norma masyarakat, agama, apapun. Sebaiknya nilai-nilai itu selalu kita junjung. Karena dari situ melahirkan sikap. Keberpihakan. Dan sikap melahirkan identitas. Paling tidak, kalau kamu tidak setuju dengan sudut pandang pihak yang berlawanan, hormatilah kebebasannya untuk bertindak demikian (selama tindakan dia tidak mengganggu kebebasan kita ya,,).
Amerika, di satu sisi, tidak punya hak untuk menyerang dan mengganggu kedaulatan negara lain. Tapi Amerika juga mengusung argumen bahwa ia berhak melindungi negaranya, dan rakyatnya. Mereka bersikap paranoid seperti itu sejak lama. Bahkan sejak sebelum September 11, 2001. Ingat penyerangan Bay of Pigs untuk memusnahkan benih-benih komunisme di Kuba dalam pemerintahan Fidel Castro? Ya, ya, Amerika memang negara yang over-paranoid. Itu pasti. Dan mereka punya sejarah yang panjang untuk menjelaskan mengapa mereka berkembang menjadi negara yang demikian. Dan latar belakang "kesendirian" mereka seringkali membuat mereka melupakan kebebasan bangsa lain.
Yah, seperti slogan AFS: It’s not right, it’s not wrong, it’s just different.
Amerika seringkali lupa hal itu…
*The End.*
Ps: Bahkan setelah pulang dari negara yang membiayai saya sekolah selama setahun itu, saya masih saja mengkritik.