Archive for June, 2007

Mencoba Bangkit

Wednesday, June 20th, 2007

Rentang pergantian hari baru berjarak beberapa menit dan aku memikirkan kembali apa yang nyaris aku lakukan kemarin. Ya, hari kemarin yang hanya berjarak beberapa putaran jam itu. Entahlah, mungkin karena dinginnya malam yang menenggelamkanku kembali ke melankoli, atau gerimis yang turun malam ini yang membuatku bersedih hati? Yang jelas, aku memikirkan kembali, dan menyadari bahwa baru saja aku membawa diriku ke tepian jurang yang begitu dalam, yang mungkin jika aku jatuh ke dalamnya tak akan ada hati sekuat hatimu mampu menarikku kembali ke atas setelah itu.

Aku nyaris melepas genggaman itu.

Entah bagaimana, sekali lagi kau mampu menguatkanku untuk kembali menyambut genggaman tanganmu yang hangat. Itu, atau hanya aku yang begitu membutuhkanmu untuk tetap kuat berdiri walaupun sendiri pun aku tetap mampu tersenyum.

Terima kasih karena kau mau tetap di situ sebagai kekuatanku. Aku membutuhkannya untuk melawan egoku sendiri yang angkuh dan manja. Bagaimanapun juga, jalan ini milik kita. Semoga kamu benar, setelah kita melewati batu cobaan yang besar ini; selanjutnya kita dapat mengatasi batu yang lebih besar dengan lebih benar.

Semoga.

Fragile

Tuesday, June 19th, 2007

…and the princess told the prince that hell had frozen, whereas heaven had deceit them with sweet, sweet illusions. "We have nowhere to go," said she. But he pulled her into his arms and wept. "Then I won’t let go," he cried. Causing tears in her eyes.

But the world has given them too many chances. Chances to blow. And the world has solemnly betrayed itself with hopes, and dreams, and lies; but they never know.

She said she would wait until forever.
But forever has no tomorrow, my dear…

Sayap - Sayap Imajiner

Monday, June 18th, 2007

Khayalku telah membentuk sayap-sayap imajiner,
sepasang sayap harapan dalam ketiadaan ruang hampa.
Sayap-sayap itu telah mengangkat tubuhku tinggi-tinggi,
kemudian menghempasku keras-keras ke bumi
sekali lagi.

Tentang Kebebasan. Tentang Amerika.

Tuesday, June 12th, 2007

Beberapa waktu yang lalu, karena didaulat untuk memeriksa essay para calon kandidat AFS angkatan 2009 kelak (well, that makes me feel old!), saya jadi bernostalgia sedikit ke tahun 2003, tahun di mana saya mengikuti seleksi AFS.

Waktu itu topik essay yang saya pilih adalah "Arti Kebebasan Buatku". Judulnya sendiri saya ga terlalu ingat. Tapi saya masih sedikit ingat inti dari tulisan tersebut. Jadi waktu itu lagi hot-hotnya penyerbuan Amerika Serikat ke Irak. Waktu itu saya rasa seluruh dunia berharap perang tersebut hanya akan berlangsung dalam hitungan bulan mengingat kekuatan perang Irak jauuuh lebih kecil dan nggak sepadan dengan kekuatan tiga negara yang menyerbunya secara sekaligus (Amerika, Inggris, Australia, ingat?). Nggak ada yang menyangka kalau invasi itu belum akan berhenti juga setelah bertahun-tahun, dan Amerika akan membuang-buang anggaran belanja tahunannya (dan membuang-buang uang rakyat dari hasil Bond tentunya) kepada perang yang nggak jelas juntrungannya.

Anyway, kembali ke essay saya tentang kebebasan.

Waktu itu saya menulis kalo kebebasan adalah hak yang dimiliki setiap manusia sejak lahir. Maka ngga ada satu orang lain pun atau pun bangsa lain yang berhak untuk mengganggu kebebasan orang lain, ataupun kedaulatan bangsa lain. Di sini saya menyambungkannya kepada persoalan Irak-Amerika. Saya berargumen, Amerika ngga berhak untuk melakukan agresi militer ke Irak tanpa alasan (waktu itu alasan mereka adalah mengenai keberadaan senjata pemusnah massal yang dimiliki Irak yang kemudian jelas tidak terbukti), karena Irak adalah negara yang berdaulat penuh atas dirinya sendiri. Kalau rakyat Irak ingin membebaskan diri dari cengkraman rezim Saddam Hussein (propaganda AS nomor dua: ‘pasukan pembebas Irak’), maka seharusnya mereka sendiri yang mengusahakan hal tersebut. Dan jika rakyat Irak memang butuh bantuan pihak internasional, untuk apa ada PBB? Tapi tidak, Amerika Serikat tentu ingin menjadi polisi dunia. Mereka selalu menganggap dirinya paling benar, terlebih sejak mereka memenangkan Perang Dingin dengan Uni Soviet.

Kurang lebih begitulah isi essay saya saat itu. Essay yang saya tulis pada saat berusia lima belas tahun. Essay yang membuka sejuta kesempatan pada saya selanjutnya.

Essay yang, ironinya, membawa saya ke negara yang saya kritik habis-habisan mengenai kebijakannya.

Lalu, setelah saya setahun belajar di sana, apa perubahan yang saya dapat mengenai arti kebebasan?

Jawabannya: nggak ada yang berubah dari ‘makna kebebasan’ buat saya. Tapi ada satu yang bertambah: sudut pandang.

Selama satu tahun saya belajar di sana, saya melihat, merasa, dan memikirkan banyak hal dari sudut pandang ‘orang Indonesia yang kebetulan berada di Amerika’. Maksudnya, saya menempatkan diri pada kacamata, "apa yang akan saya lakukan jika saya berada di posisi mereka?"

Begini. Amerika adalah negara besar yang tidak lahir begitu saja kemarin sore. Mereka sudah melewati banyak proses yang membawa mereka ke posisi mereka saat
ini. Misalnya kayak masalah perbudakan yang menyebabkan civil war
antara utara dan selatan, atau 18th amendment tentang pelarangan
alkohol, lalu permasalahan tentang hak voting bagi wanita. Hal-hal
seperti ini telah memberikan pengertian pada mereka akan arti
‘kebebasan’ itu sendiri.

Walaupun ini tidak membenarkan. Karena apa yang mereka anggap benar belum tentu merupakan kebenaran bagi bangsa lain.

Kelemahannya, Amerika yang secara geografis "menyendiri" (terpisah dengan bangsa2 lain oleh dua samudera paling luas di muka bumi), cenderung membuat mereka lebih melihat ke dalam dirinya sendiri, dan tertutup terhadap dunia luar. Gini aja deh, mereka satu-satunya negara yang memainkan ‘foot ball’ dengan membawa bola di tangan, bukannya di kaki; dan matrix system yang mereka gunakan saja berbeda dengan kebanyakan negara lainnya di dunia. Itu contoh yang keliatan aja yah.

Tapi begini, kalau saja kamu lahir, hidup, dan mencari nafkah di suatu negara di mana wanita tadinya tidak diberi kebebasan berpolitik sama sekali; lalu melalui perjuangan yang amat panjang akhirnya kamu boleh berpolitik, apa yang akan kamu rasakan mengenai wanita di negara lain yang bahkan mengenakan celana jins keluar rumah saja tidak boleh?

Tentu reaksi awal kamu akan berpikir, ‘Itu tidak adil!’ Dan itu tidak bisa disalahkan. Begitu pula dengan pendapat wanita di Amerika, pendapat mereka tidak sepenuhnya benar, tapi tidak bisa disalahkan kalau mereka berpendapat demikian. Mengapa? Karena mereka tidak tinggal di negara tersebut. Mereka bukan wanita-wanita yang harus menutupi tubuhnya setiap hari, setiap saat. Mereka tidak tahu alasan dan latar belakang mengapa tradisi maupun peraturan itu berlaku. Sama seperti wanita di Irak, yang mungkin terbiasa dengan pakaian tertutup dan bertanya-tanya, mengapa wanita amerika membuat hal-hal seperti itu sebagai suatu permasalahan yang terlalu dibesar-besarkan.

Intinya adalah, setiap langkah dan setiap keputusan yang diambil seseorang dan suatu negara tentu sangat dipengaruhi oleh latar belakang sejarah dan nilai-nilai kehidupan yang pernah dilewatinya. Di sini sekali lagi kebebasan ditekankan. Kita tidak bisa men-judge tindakan pihak lain sebagai ‘benar’ atau ’salah’, hanya dengan melihat dari sudut pandang kita sendiri. Kita sebaiknya mempertimbangkan sudut pihak lain tersebut: apa yang membuatnya bertindak demikian?

Tapinya lagi, kita juga punya nilai-nilai yang kita anut. Entah norma masyarakat, agama, apapun. Sebaiknya nilai-nilai itu selalu kita junjung. Karena dari situ melahirkan sikap. Keberpihakan. Dan sikap melahirkan identitas. Paling tidak, kalau kamu tidak setuju dengan sudut pandang pihak yang berlawanan, hormatilah kebebasannya untuk bertindak demikian (selama tindakan dia tidak mengganggu kebebasan kita ya,,).

Amerika, di satu sisi, tidak punya hak untuk menyerang dan mengganggu kedaulatan negara lain. Tapi Amerika juga mengusung argumen bahwa ia berhak melindungi negaranya, dan rakyatnya. Mereka bersikap paranoid seperti itu sejak lama. Bahkan sejak sebelum September 11, 2001. Ingat penyerangan Bay of Pigs untuk memusnahkan benih-benih komunisme di Kuba dalam pemerintahan Fidel Castro? Ya, ya, Amerika memang negara yang over-paranoid. Itu pasti. Dan mereka punya sejarah yang panjang untuk menjelaskan mengapa mereka berkembang menjadi negara yang demikian. Dan latar belakang "kesendirian" mereka seringkali membuat mereka melupakan kebebasan bangsa lain.

Yah, seperti slogan AFS: It’s not right, it’s not wrong, it’s just different.

Amerika seringkali lupa hal itu…

*The End.*

Ps: Bahkan setelah pulang dari negara yang membiayai saya sekolah selama setahun itu, saya masih saja mengkritik.

buat yang ngerasa pintar dan benar

Monday, June 11th, 2007

# katanya musti kompak, kebersamaan,lha
kita terlalu kompak disalahin

# katanya dewasa, tapi ngga mengerti
arti "pilihan"

# katanya demokrasi, tapi ngga bisa
menghargai perbedaan.

So…
>> orang yang melihat suatu sistem dari
sudut pandang yang berbeda, dibilang di
luar sistem?

>> orang yang berada di luar sistem itu
selalu salah?

grow up lah. isi kepala semua orang toh
berbeda. mohon dihargai. emang
kebersamaan artinya semua harus seragam?
perbedaan memperkaya persatuan, man!

kapan bangsa indonesia mau maju?

"I will not agree with what you say, but
I’ll defend your right to say it." -
kata orang bijak. (Voltaire, gitu?)

whatever lah.

sebenarnya ngga penting sih, cuma pengen ngomong ajah…

Sunday, June 3rd, 2007

wakakaks. sebenarnya judul dari postingan kali ini adalah sebuah disclaimer, jadi buat elo2 yg udah terlanjur baca, ya sud. at least gw uda ngewarning kalo isinya ga penting bgt. so here it goes:

ada seorang cewe, kita sebut aja namanya Siska. nah, si Siska ni sebenernya udah punya cowo. tapi… yah, "tapi"nya panjang deh ga usah diceritain di sini. Siska tergabung dalam suatu unit kegiatan mahasiswa di kampusnya. di ukm ini dia kenal sama cowo bernama… Bobby. (njis, namanya kebagusan!) Si Bobby ini juga sudah punya cewe. tetapi, yagh, "tapi"nya juga terlalu panjang untuk diceritain. (hehe. demi keselamatan semua pihak juga.)

so, Siska dan Bobby bertemu di ukm ini. lalu waktu berlalu. entah sejak kapan dan bagaimana tiba-tiba mereka jadi deket. suka smsan. tapi suka berantem juga. hmm. rupanya Bobby menerapkan trik "menjadi orang paling menyebalkan sedunia" kepada Siska. sehingga walopun sebenarnya Siska udah males berhubungan dengan orang ini, tapi mereka pasti gontok-gontokan melulu, jadi masalahnya ga pernah selesai.

contoh kebrengsekan Bobby? hmm, apa yah? misalnya ngatain Siska (dan temen2nya) cewe2 munafik lah. ngomong m*nyet ke Siska. haduuh, cape deh. cowo macam apa itu ngatain cewe kaya gitu. lalu kenapa Siska masih nanggepin? yah, karna Siska juga kesel lah digituin, apa sih maunya? masalahnya maunya itu ga jelas jadi ya gitu weh seterusnya. hmm, Siska juga salah sih nanggepin terus. orang-orang kan jadi salah mengartikan hubungan mereka. padahal seharusnya dicuekin aja sejak lama.

ya udah lah yaa. temen2nya Siska juga udah nyuruh dia cuek aja, tapi Siskanya tambeng (artinya: bandel). dan gosip pun mulai menyebar dan makin ngga enak aja baunya. lalu. tiba-tiba suatu hari Siska menerima telepon yang mengezutkan. yep. tiba-tiba cewenya Bobby yang "tapi" itu menelepon dia, ngajakkin ketemuan, dan ‘pingin ngobrol aja biar ngga salah pengertian’. DHUAARRRR!! Siska terkezut. ya ampyun, watdefak watdehel maderfaker gotuhel yeuh?

kenapa coba Siska terkezut? hmm gini deh. helloo, kayaknya yang terus2an mendekat tuh si Bobby deh (walopun Siska juga punya andil di sini). dan kayaknya yang justru lebih pantes ngajak ‘ngobrol biar ngga salah pengertian’ tu malah cowonya Siska yang "tapi" itu. hmm. tapi berdasarkan pengalaman, cowo emang biasanya jago memutarbalikkan keadaan sehingga kelihatannya dia yg jadi korban. hahaha.

sumpah, gw ngakak begitu denger kabar ini. bukannya gw ga prihatin dengan Siska, ngga, gw mah nyemangatin dia aja. cuma menertawakan the irony of life yang sedang melanda Siska ajah. lucu aja, kayak di sinetron2. duh, males banget deh. semangat ya, Sis!

jadi, pelajaran apa yang dapat kita tarik dari postingan kali ini:

  1. jangan main api. karna ngga akan ada asap kalo ngga ada api. lalu kalo ngga main api juga kita ngga kena luka bakar kan? hihi.
  2. hmm. se"tapi" apapun pacar kita, ya, setidaknya cobalah untuk menetapkan pandangan hanya padanya. paling ngga, hindarilah gosip. karena gosip tu merusak banget, dan biasanya hanya sekitar 7% yang bener dari gosip2 yang beredar (itu udah termasuk nama-nama yang terlibat). sisanya biasanya dugaan dan hipotesis belaka. yang paling tau kan cuma pelaku. wahaha!
  3. buat yang udah terlanjur terjerat di posisi Siska ataupun Bobby, berhentilah dengan segera! atau paling tidak, jangan sampe di masa depan kesalahan itu terulang. (sok bijak)
  4. buat yang ada di posisi pacarnya Siska atau pacarnya Bobby, lakukanlah yang seperti pacar Bobby lakukan! maaf ya Sis, bukannya gw ga ngedukung lo. to be fair, gw jg akan melakukan hal yang sama kalo jadi dia. paling ngga, luruskan segalanya, dan buktikan kalo kamu masih punya kuasa atas dia. (buat Siska, tenang aja, kalo lo ngga ngerasa salah lo pasti tenang kan ngehadapin ini?)

Ya udah itu aja. gak penting banget kan posting-an gw? jadi berasa anak gaul friendster/blogspot/multiply/whatever yang saling menceritakan orang lain di dunia virtual, lalu di dunia nyata cuman bisa saling buang muka. haha. salut buat cewenya Bobby. salut juga buat Siska. girl power!!