What a shame.
Selama ini hidup saya hanyalah berkisar antara saya,saya,saya dan diri saya sendiri. Self-centered. Egosentris. Narsis. Conceited. Apapunlah itu istilahnya. Dalam memutuskan sesuatu, saya pasti akan mementingkan apa yang saya mau. Waktu mengambil tindakan, saya pasti mendengarkan kata hati saya. (Apapun yang orang lain bilang pada saya.) Ketika hal buruk menimpa saya, saya hanya akan tertawa dan berkata, "That’s his loss, not mine!" karena saya percaya akan kemampuan dan kelebihan saya sendiri, dan saya percaya kalau saya sudah melakukan yang terbaik, maka saya nggak akan dapat kerugian.
Tapi justru kepercayaan diri saya yang tinggi serta self respect saya itu justru kadang mendatangkan masalah. Haha.
Tiba-tiba terlintas dalam pikiran saya orang-orang yang mungkin membenci saya dalam hidup mereka. Yaitu orang-orang yang pernah saya sakiti, langsung maupun nggak langsung; orang-orang yang haknya mungkin pernah saya rampas secara nggak sadar; orang-orang yang mungkin membenci saya karena iri (oh, for what-so-ever reason) atau nggak suka dengan ke-self-confidence-an saya yang tinggi. Beberapa dari mereka saya kenal, beberapa tidak. Atau beberapa lagi pura-pura ngga kenal.
Kemarin di kampus saya ketemu sama seorang cewek yang pernah menyakiti saya, merebut seseorang yang saya sayang. Saya perhatikan dia dari jauh. Saya tanya sama diri saya sendiri, apakah saya membenci dia? Toh, saya nggak kenal dia. Tapi saya nggak suka apa yang pernah dia lakukan sama saya. Kalau dulu hal itu nggak perlu terjadi, apakah hari ini saya juga akan membenci dia? Bisa saja kalau saya mengenal dia karena pribadinya, saya dan dia malah menjadi teman baik dan kita malah bertegur sapa dengan akrab, bukannya saling membuang muka kalau bertemu di kampus. Diam-diam saya ingin mengenal dia. Ingin tahu apa kelebihan dia yang membuat dia pernah memenangkan satu babak dari saya (hey, i lost a battle but i won the war!). Karena dia pasti punya pribadi yang menarik (selain juga fisiknya yaah lumayan) sehingga orang-orang ingin mengenalnya lebih dekat. Saya perhatikan dia sampai menghilang di pintu gerbang (dia pasti udah gatel pingin ngebentak saya, "Apa seh liat-liat???"), dan saya putuskan kalau saya nggak membenci dia, tapi saya nggak suka sama apa yang pernah dia lakukan pada saya.
Sempat terbersit pikiran jahil, tadi harusnya saya datangi saja dia dengan senyum ramah, mengulurkan selebaran Bioskop Kampus di LFM dan mengajaknya berkenalan. Tapi saya tahan diri saya, mungkin dia membenci saya.
Yeap. Mungkin dia adalah satu dari banyak orang yang nggak suka sama saya. Saya nggak akan melarang dia, apalagi menyalahkannya. Kalau dia memang benci saya, itu hak dia. Toh saya juga bisa saja membenci dia, tapi saya memilih untuk tidak. Mungkin dia memilih untuk membenci saya? Yah, sudahlah. Kita jalani hidup kita masing-masing saja.
Toh hidup saya nggak sebersih dan selurus itu juga. Ada satu titik dalam hidup saya di mana saya menjadi pelaku kejahatan yang sama seperti yang cewek itu pernah lakukan pada saya. Cuma kasusnya berbeda. Pasangan itu berpisah bukan karena saya, (I don’t know what the problem was, actually), tapi keberadaan saya pernah mengganggu mereka. Nah, dalam hal ini, mungkin bertambah lagi deretan orang-orang yang benci sama saya. Atau kecewa sama saya.
Yah,, mau gimana lagi? Saya harus pernah membuat kesalahan, itu yang membuat diri saya seorang manusia.
Tapi yang mau saya katakan di sini adalah… dalam hidup ini kita pasti pernah membuat kesalahan, atau orang lain pernah buat kesalahan sama kita. Masalah benci atau tidak, kebanyakan dari kita membenci orang yang berbuat salah sama kita itu karena kita hanya melihat dia pada kejadian itu. Nggak pernah kita coba melepas kacamata kita dan melihat dia sebagai manusia seutuhnya. Seperti yang saya bilang tadi, kalau kita mencoba mengenal dia, mungkin kita punya banyak kesamaan dengan dia dan kita malah berteman dengannya. Tapi emang susah terjadi, masalah itu terlalu besar menutupi pandangan kita, menghalangi kita untuk mengenal orang itu dengan cara yang berbeda.
Yang jelas, biarpun mungkin di belakang banyak orang yang benci sama saya dan ingin menusuk-nusuk punggung saya, yang penting saya masih punya orang-orang yang sayang sama saya. They are the ones that matter. Biarlah, toh membenci itu perasaan yang membuat lelah.
***
Saat ini masalah lain datang. Saya sadar, apa yang saya lakukan telah menyakiti seseorang. Dan banyak yang kecewa karena saya. Mereka nggak tau, dalam hati ini perasaan saya sendiri tercabik-cabik, dan mungkin malah saya sendiri yang paling disakiti dalam hal ini. Saya lagi jadi orang bingung… Dan saya takut saya akan tenggelam dalam kebingungan itu kalau saya berlama-lama diam. Tapi beri saya kesempatan. Saya mungkin akan tersakiti, tapi biarlah saya nikmati sakit ini sendiri…
……………………………………………………………
(perhatiin deh. berapa banyak kata ’saya’ dalam post ini? gosh, i’m so conceited..)