Archive for March, 2007

Pesan Terakhir untuk Bintang

Thursday, March 29th, 2007

Kurasa tiba saatnya mengucapkan salam perpisahan…

Kepada ksatria malam, purnama.

Kepada andromeda dan sejuta bintang.

Bintang memberiku penghiburan dalam sepinya malam.

Dengan kerlap-kerlipnya seolah mengajakku berbincang.

Aku tak keberatan untuk sebuah persahabatan,

dan perasaan yang muncul setelahnya

adalah akumulasi dari kerinduanku akan keberadaan.

Dan ketika bintang menawarkan kehangatan hati dalam dekapan,

aku menyambutnya karena tak elak aku takut akan kegelapan malam.

Tapi bintang tak selamanya menenangkan.

Suatu saat pagi menyerbu dengan jubahnya yang keemasan,

dan bintang bergegas pergi

tanpa hiraukan tanganku yang masih menyisakan genggaman.

Lalu aku melanjutkan hariku,

karna ku tau nanti malam bintangku kan datang lagi

menyanyikan melodinya untukku.

Tapi cukup untuk ketidakpastian.

Sejak kemarin bintang tak muncul di langit malam.

Mendung menggantung.

Adakah bintangku pergi menghibur hati yang malang?

Aku tak peduli.

Kunyalakan saja lentera hatiku sendiri.

Lalu kunyanyikan lagu-lagu indah pengusir gundah.

Dan kurajut manik-manik ringan penyulam kenangan.

Hingga suatu saat bintangku datang kembali,

aku tak perlu menantinya lagi.

Karna diriku adalah jiwa yang menari bebas di ruang angkasa.

Menafaskan cinta ke hampa udara,

tanpa takut terbelenggu olehnya.

Berdansa pada satu planet ke planet yang lainnya,

tanpa takut terpikat oleh kilau atmosfernya.

Wahai semesta,

galaksi,

dan semua yang bergerak perlahan dalam pusaran waktu,

sambutlah aku…

hari ini .

Wednesday, March 28th, 2007

15tauun_1

28. 03. 07

Sayangku yang jelek,,

Detik-detik mengalir bagai berlari.

Kenangan mengukir indahnya hari.

Selama aku bersama kamu,

sejarah berhenti di tengah putaran waktu.

Sayangku yang cuek,,

meski kilau keindahan pernah ternoda kelam,

tapi imaji tentang aku dan kamu

tetap yang terindah.

Walau tak sempurna, esensinya begitu nyata.

Sayangku yang paliing aku sayang,

maafkan atas khilaf yang pernah menggores

di kala hati tengah lemah.

Satu ciri eksistensi manusia yang tak luput dari salah.

Tapi hatimu:

tempat aku merasa nyaman di dunia.

Aku sayang kamu…

[vienzic 1.5 taun yeayeayea!!]

Fake Plastic Trees — Radiohead

Tuesday, March 27th, 2007

Dia mendedikasikan lagu ini untuk Saya.

Saya tak tahu sedalam apa maknanya bagi Dia,,

tapi yang jelas, bagi Saya, Dia adalah sahabat yang berharga.

Terlalu berharga.

Setelah banyak momen yang Kami lalui bersama,

Saya baru menyadari betapa tulus perasaannya.

Baru malam ini.

….

(silence.)

Her Green plastic watering can
For her fake Chinese rubber plant
In the fake plastic earth.
That she bought from a rubber man
In a town full of rubber plans.
to get rid of itself.
And It Wears Her Out, it wears her out
It wears her out, it wears her out.

She lives with a broken man
A cracked polystyrene man
Who just crumbles and burns.
He used to do surgery
For girls in the eighties
But gravity always wins.
And It Wears Him Out, it wears him out
It wears him out, it wears him out.

She looks like the real thing
She tastes like the real thing
My Fake Plastic Love.
But I can’t help the feeling
I could blow through the ceiling
If I just turn and run
And It Wears Me Out, it wears me out
It wears me out, it wears me out.

And if I could BE who you wanted
If I could BE who you wanted,
All the time, all the time, ohhh…

…you were there when i broke down and cry.

…you were there when my heart stop seeing the beauty of this life, and you show it to me through my disbelieved-eye.

…you were there. you were there.

…even if i wandered around, you would always be there.

[wish i could be who you wanted]

thank you for the love you give me. i’m sorry for the chance, you and i can never be.

. …. …

Hatred .

Friday, March 23rd, 2007

What a shame.

Selama ini hidup saya hanyalah berkisar antara saya,saya,saya dan diri saya sendiri. Self-centered. Egosentris. Narsis. Conceited. Apapunlah itu istilahnya. Dalam memutuskan sesuatu, saya pasti akan mementingkan apa yang saya mau. Waktu mengambil tindakan, saya pasti mendengarkan kata hati saya. (Apapun yang orang lain bilang pada saya.) Ketika hal buruk menimpa saya, saya hanya akan tertawa dan berkata, "That’s his loss, not mine!" karena saya percaya akan kemampuan dan kelebihan saya sendiri, dan saya percaya kalau saya sudah melakukan yang terbaik, maka saya nggak akan dapat kerugian.

Tapi justru kepercayaan diri saya yang tinggi serta self respect saya itu justru kadang mendatangkan masalah. Haha.

Tiba-tiba terlintas dalam pikiran saya orang-orang yang mungkin membenci saya dalam hidup mereka. Yaitu orang-orang yang pernah saya sakiti, langsung maupun nggak langsung; orang-orang yang haknya mungkin pernah saya rampas secara nggak sadar; orang-orang yang mungkin membenci saya karena iri (oh, for what-so-ever reason) atau nggak suka dengan ke-self-confidence-an saya yang tinggi. Beberapa dari mereka saya kenal, beberapa tidak. Atau beberapa lagi pura-pura ngga kenal.

Kemarin di kampus saya ketemu sama seorang cewek yang pernah menyakiti saya, merebut seseorang yang saya sayang. Saya perhatikan dia dari jauh. Saya tanya sama diri saya sendiri, apakah saya membenci dia? Toh, saya nggak kenal dia. Tapi saya nggak suka apa yang pernah dia lakukan sama saya. Kalau dulu hal itu nggak perlu terjadi, apakah hari ini saya juga akan membenci dia? Bisa saja kalau saya mengenal dia karena pribadinya, saya dan dia malah menjadi teman baik dan kita malah bertegur sapa dengan akrab, bukannya saling membuang muka kalau bertemu di kampus. Diam-diam saya ingin mengenal dia. Ingin tahu apa kelebihan dia yang membuat dia pernah memenangkan satu babak dari saya (hey, i lost a battle but i won the war!). Karena dia pasti punya pribadi yang menarik (selain juga fisiknya yaah lumayan) sehingga orang-orang ingin mengenalnya lebih dekat. Saya perhatikan dia sampai menghilang di pintu gerbang (dia pasti udah gatel pingin ngebentak saya, "Apa seh liat-liat???"), dan saya putuskan kalau saya nggak membenci dia, tapi saya nggak suka sama apa yang pernah dia lakukan pada saya.

Sempat terbersit pikiran jahil, tadi harusnya saya datangi saja dia dengan senyum ramah, mengulurkan selebaran Bioskop Kampus di LFM dan mengajaknya berkenalan. Tapi saya tahan diri saya, mungkin dia membenci saya.

Yeap. Mungkin dia adalah satu dari banyak orang yang nggak suka sama saya. Saya nggak akan melarang dia, apalagi menyalahkannya. Kalau dia memang benci saya, itu hak dia. Toh saya juga bisa saja membenci dia, tapi saya memilih untuk tidak. Mungkin dia memilih untuk membenci saya? Yah, sudahlah. Kita jalani hidup kita masing-masing saja.

Toh hidup saya nggak sebersih dan selurus itu juga. Ada satu titik dalam hidup saya di mana saya menjadi pelaku kejahatan yang sama seperti yang cewek itu pernah lakukan pada saya. Cuma kasusnya berbeda. Pasangan itu berpisah bukan karena saya,  (I don’t know what the problem was, actually), tapi keberadaan saya pernah mengganggu mereka. Nah, dalam hal ini, mungkin bertambah lagi deretan orang-orang yang benci sama saya. Atau kecewa sama saya.

Yah,, mau gimana lagi? Saya harus pernah membuat kesalahan, itu yang membuat diri saya seorang manusia.

Tapi yang mau saya katakan di sini adalah… dalam hidup ini kita pasti pernah membuat kesalahan, atau  orang lain pernah buat kesalahan sama kita. Masalah benci atau tidak, kebanyakan dari kita membenci orang yang berbuat salah sama kita itu karena kita hanya melihat dia pada kejadian itu. Nggak pernah kita coba melepas kacamata kita dan melihat dia sebagai manusia seutuhnya. Seperti yang saya bilang tadi, kalau kita mencoba mengenal dia, mungkin kita punya banyak kesamaan dengan dia dan kita malah berteman dengannya. Tapi emang susah terjadi, masalah itu terlalu besar menutupi pandangan kita, menghalangi kita untuk mengenal orang itu dengan cara yang berbeda.

Yang jelas, biarpun mungkin di belakang banyak orang yang benci sama saya dan ingin menusuk-nusuk punggung saya, yang penting saya masih punya orang-orang yang sayang sama saya. They are the ones that matter. Biarlah, toh membenci itu perasaan yang membuat lelah.

***

Saat ini masalah lain datang. Saya sadar, apa yang saya lakukan telah menyakiti seseorang. Dan banyak yang kecewa karena saya. Mereka nggak tau, dalam hati ini perasaan saya sendiri tercabik-cabik, dan mungkin malah saya sendiri yang paling disakiti dalam hal ini. Saya lagi jadi orang bingung… Dan saya takut saya akan tenggelam dalam kebingungan itu kalau saya berlama-lama diam. Tapi beri saya kesempatan. Saya mungkin akan tersakiti, tapi biarlah saya nikmati sakit ini sendiri…

……………………………………………………………

(perhatiin deh. berapa banyak kata ’saya’ dalam post ini? gosh, i’m so conceited..)

The Aftershock .

Wednesday, March 21st, 2007

"Tolong jawab aku, apakah cerita itu benar?"

(Diam)

(Memandang penuh tanda tanya)

"…begitulah."

"Ceritakan padaku selengkapnya!"

(Bercerita. Tak bisa berbohong padanya)

(Terpana)

"…maafkan saya."

"Yah, itu urusan kalian. Kalian sudah dewasa. Hanya saja, tolong biarkan aku berdiri dalam ketidaktahuan."

"…"

"Sekarang apa yang akan kamu lakukan?"

"Aku… harus mengambil sikap?"

"Hah. Kau yakin?"

"Aku nggak tau. Benar-benar nggak tau."

"…aku hanya nggak mau di antara kalian ada yang menangis dan kecewa karena kejadian ini pada akhirnya…"

Tangis mereka pecah. Saling berpelukan. Dua sahabat yang saling berpegangan. Tapi kini ia tengah rapuh, dan sedikit pelukan hangat akan hapuskan keluh. Ia tak tahu… Ia tak tahu.

Dunia, maafkan aku yang tak mau tahu.

just some random thoughts .

Tuesday, March 20th, 2007

soal hidup yang absurd. menurut saya hidup ini berjalan sebagaimana mestinya. ia punya cara-caranya sendiri untuk menjaga keseimbangan dunia. caranya? di antaranya seseorang harus kalah di kala manusia lain mencapai kemenangan. ada yang mati kelaparan di saat yang bersamaan dengan seorang anak yang mendapat kue tart besar yang bahkan tak habis dimakannya sendiri.

ada yg bilang hidup ini nggak adil, tp sebenarnya keadilan itu bukan kita yang punya. manusia menganggap hidup ini absurd, nggak adil, berat, kenapa? mungkin karena terkadang akal manusia tak cukup tinggi untuk memahami "hidup" secara keseluruhan (bukan hidup dari kacamatanya sendiri). mungkin karena ego manusia sering terlalu besar untuk menerima kenyataan bahwa "hidup" lebih sering berpihak pada kegagalan dirinya daripada kemenangan.  padahal di dalam kegagalan itu dirinya belajar.

tapi dunia tetap bergulir sebagaimana mestinya. tau kan pepatah, bahwa kepakan seekor kupu-kupu di Cina bisa menyebabkan badai di belahan bumi lainnya. padahal kupu-kupu itu tidak tahu apa yg ia lakukan, ia hanya mengepakkan sayap sebagaimana instingnya memberitahunya. ia tak tahu apa akibatnya. mungkin begitulah seharusnya manusia menjalani hidup. just live life to the fullest, do the best we can each and everyday. soal dunia yg membuat kita jatuh bangun, justru saat kita mencoba bangkit dari kejatuhan itulah yg dinamakan the art of living.

"yeah, you bleed just to know you’re alive.."

–iris / googoodolls–

soundtrack of my life

Kembalikan Hari Jumatku..!!

Friday, March 16th, 2007

Sudah akhir pekan lagi? Waktu benar-benar berlari hingga aku tak sempat berhenti untuk berpikir dan bertanya lagi tentang segala hal. Yah, biasanya selalu ada waktu. Terlalu banyak waktu untuk merenung dan berkontemplasi, sehingga akhirnya aku bingung dengan pemikiran-pemikiranku sendiri: apa yang aku mau, apa alasan untuk semua ini. Pada akhirnya pusing sendiri dan berujung pada melankoli.

Haha. Kali ini tak ada waktu untuk bermelankoli.

Satu. Proyek film angkatan benar-benar menyita perhatian, waktu, energi, bensin, dan aki si Hijau. Sudah beberapa hari ini pulang ke rumah setelah hari gelap dengan energi yang benar-benar terkuras. Cukup puas dengan hasilnya. Mungkin malah lebih puas daripada proyek film yang sebelumnya.

Dua.  Di samping proyek film yang menguras tenaga, masih ada tugas-tugas akademik memanggil-manggil ketika seharusnya aku pulang ke rumah dan beristirahat. Maka setelah kembali ke kehangatan kamarku yang biru, bukannya bercumbu dengan bantal-guling, aku harus melewatkan malam bersama meja gambarku tersayang. Arrgh. Kurang tidur, kurang istirahat. Ah, entah sudah berapa hari tidak tertidur dalam dekapan si Biru. Mungkin malam ini aku akan kembali mengunjungi kamu, kamarku. (heuheu)

Tapi bener deh. Kalau aku mau protes, kalau aku mau meminta kehidupanku kembali, minta sama siapa? Bukankah ini hidup yang aku pilih? Kalau aku teriak, "I want my life back!" Dunia bakal mencibir, "Girl, get real. This IS your LIFE." Haha. Kalau aku meminta kehidupanku kembali, dunia akan menamparku dan memutar film yang sama terus-terusan dalam benakku hingga aku mengerti kalau inilah hidupku yang sekarang: less time to rest, more time to work. Nggak ada lagi namanya bermalas-malasan, berhedon-hedon di akhir pekan seperti anak remaja tanggung, bermalam minggu di spot-spot tergaul dalam kota (yoiii..). Hoohoo. Big No No, girl! Jalani sajalah. Nanti juga akan terbiasa dalam ritmenya.

Sekarang aku lebih mengerti posisi dia. Ya, ya, dia. Dia yang selalu sibuk hingga nyaris tak punya waktu untuk dirinya sendiri. Biasanya ketika aku masih punya banyak waktu, aku mengeluh dan mengutuk dia yang seakan tak mengerti kalau aku selalu menunggunya, paling tidak untuk menatap mataku dan menatap untuk mengatakan rasa sayangnya padaku lewat tatapan itu. Biasanya egoku memberontak, dan kubiarkannya begitu. Baguslah. Dengan punya sedikit waktu, tak ada lagi waktu untuk ego. Dan sedikitnya aku bisa berpikir agak lebih jernih.

About time, huh?

Yang jelas, walaupun minggu ini berlalu lebih cepat dari yang aku mau, I’ve never felt so alive before. Yep. Aku merasa lebih hidup dari biasanya. Kalau aku melihat lagi ke belakang, kayaknya kemarin-kemarin hidup lebih banyak kulewati dengan bermimpi. Berhayal akan adanya hal yang lebih baik dari semua ini. Haha, ngehayal mulu. Padahal ada kenyataan yang membentang di hadapanku, belum terjamah.

Sudah waktunya untuk kembali ke dunia nyata.

Darn, I love my life so much…

Cerita Semalam

Saturday, March 10th, 2007

Sudah lama tidak bermalam minggu bersama. Kemarin pagi dia menelepon, "Hey gadis, mari kita berhahahihi bersama malam ini!" Baiklah, kutunggu kamu di pintu gerbang hijau seperti biasa.

Dia bilang dia akan datang sore ini. Maka aku menunggu dia. Tapi hingga petang menjelang, dia belum juga datang. Aku menunggu hingga mata terpejam. Lalu dia menelepon, "Sayang maaf ya, aku ketiduran!"

Ahahaha. Tenang saja, sayang. Aku juga sempat menyapa mimpi walau cuma sebentar.

Lalu akhirnya dia datang juga. Kami memilih mengajak Atoz hijauku pergi. Naik motormu di tengah cuaca begini, kita bisa mati beku, sayangku.

Akhirnya si Hijau terjebak di tengah lautan mobil remaja dan anak muda gaul Bandung di bilangan Cihampelas. Tidak apa, asal dia di sampingku.

Entah kenapa keheningan menyapa. Seperti ada jeda.

Tapi kemudian aku mengeluarkan komentar-komentar kurang penting dan dia tertawa mendengarnya. Kurasa keadaan sudah kembali seperti biasa.

Singkat cerita, film pilihan malam ini adalah "La Tigre e La Neve" (The Tiger and The Snow). Roberto Benigni e Nicola Braschietta. Good story, beautiful music, great cinematography. Tapi apa yang terjadi saudara-saudara???

Saya ketiduran di pundaknya.

Yahhh. I missed a great movie! Dan si pacar tersenyum maklum. Maaf, maaf, maaf… Aku benar-benar lelah tiga hari belakangan ini. "Kamu melewatkan cerita yang benar-benar bagus, Nona," katanya.

Arrrrgh!!

Lalu kami kembali menjemput si Hijau yang akan membawa kami pulang. Dia masih bersemangat menceritakan isi film. Aku hanya diam mendengarkan, rasa ngantuk masih menggantung di mataku. ("That god-damn sketch up!" pikirku.)

Kuputar kunci untuk membangunkan si Hijau. Tidak terjadi apa-apa. Sekali lagi kubangunkan dia, si Hijau diam saja. Aaaaaaaargh, apa lagi ini??! Aku mulai panik. Pacar juga kebingungan. Tak ada dari kami yang mengerti mesin atau apapun juga, dan itu sudah pukul dua belas malam.

Tenang, tenang, tenang.

Dengan satu panggilan telepon, maka bala bantuan pun tiba. Terima kasih, Mas Bengkel Hyundai. Maafkan dua orang remaja lugu ini yang tak mengerti apa-apa tentang dunia (mobil).

Hahaha. What a night. But like I always say, spending time with you is always beautiful.

Good night, dear. Mungkin masih lama hingga kita bisa habiskan waktu bersama lagi. Tapi malam ini saya cukup bahagia bisa berhahahihi sama kamu lagi.

One Must Imagine Sissyphus Happy . (a story- retold)

Thursday, March 8th, 2007

Seorang teman menceritakan ini pada saya. Saya hanya menceritakan ulang padamu. Untuk kamu yang merasa kadang hidup ini terasa berat, membosankan atau absurd. Mungkin kamu punya pemahaman yang berbeda dengan saya. Yah, silakan baca saja.

Pernah dengar tentang "the curse of sissyphus"?

sissyphus dikutuk oleh Dewa2 untuk mengangkat batu di pundaknya sampai atas bukit, lalu batu itu akan jatuh sesampainya dipuncak bukit.., lalu sissyphus harus mengangkatnya lagi.. terus seperti itu berulang-ulang..

ini, adalah harga yg harus dibayar sissyphus karena memberikan "harapan" untuk manusia2 lain…

an old greek tale,.. tapi ini adalah metafor, hidup, tidak ada siksaan yg lebih berat dalam hidup kecuali "harapan yg sia2"… seperti hidup, happiness and absurd is two sons of the same eart, two side of the same coins, its inseparable.. "Hidup", pada cerita itu adalah absolutisme dari dewa2 dan hukuman bagi sissyphus untuk tersiksa dan tersia-sia, berulang2 entah sampai kapan.., tapi sissyphus mengajarkan kita hal yg lain.. dia tau bahwa dewa2 berkuasa, dia juga tahu bahwa manusia butuh "harapan".., maka dy mengambil langkah yg kemudian menyebabkan "kutukan" itu terjadi… ini, seperti hidup.. we had to make change, change is what makes life worth living… true.. but only reminding… sometimes the changes that we make and take again lead us to the same conclusion, to the same vain and irrelevant results… as the way sissyphus was condemned to cealesly rolling a rock to the top of a mountain, whence the stone would fall back of its own weight…

but that doesnt matter.., kenapa??
sissyphus juga sadar penuh akan hal ini, dia lakukan hal yang percuma., karena meski terlihat sebagai hal yg percuma dan sama… setiap ulangan dari perjalanan yg dy ambil, setiap jatuhan batu dan perjalanan yg dy ulang.., membentuk "maknanya" sendiri bwt dy.. bagi dy "his struggle" menghadapi itu semua adalah apa yg "mengisi" hati dan hidupnya…

One must imagine Sisyphus happy…
one must imagine sissyphus was happy doin all that suffers…

dengan itu, maka semua penderitaannya jadi tidak sia-sia…

hidup itu absurd,… tapi justru karena itu,.. we can always have the rights to "discovers", and to "struggle"… dengan itu kita memaknai keberadaan kita… mungkin hanya harapan sia-sia,.. but what’s worth is that we choose not to "accept the misery".. like the way sissyphus doing the curse ,.. we must imagine sissyphus happy doin that.. we must be "happy" for the way we choose not to given up on the world…

sissyphus menderita tanpa akhir, tapi ia bertahan., dan dengan itu dewa dan batu ia nafikan. pergulatannya jadi sesuatu yg memenuhi dirinya.. tapi "orang harus membayangkan sissyphus berbahagia".

++thanks to Bagus atas ceritanya.. mungkin kerangka pikir saya belum nyampe pada pemahaman yang sebenarnya, tp at least saya mencoba. hahaha..

Sebuah Klarifikasi

Wednesday, March 7th, 2007

Kepada seorang pecinta di perantauan.

Janganlah kamu khawatir, gadismu setia di penantian. Biarpun angin-angin berbisik menggelitik, dia tetap bertahan dalam dingin yang menggigit. Ia bertahan, walaupun tiap saat ia berharap kau akan datang untuk menghangatkan.

Mungkin kadang ia tersiksa dalam penantiannya, tapi satu-satunya siksaan adalah kerinduannya akan kamu. Biarkanlah dia begitu. Ia melakukannya karena cintanya padamu, dengan demikian ia bahagia.

Jangan menyakitinya dengan prasangka, kau tak mau jarak di antara kalian kian melebar. Bukan jarak yang bisa kautempuh dalam hitungan jam saja, tetapi jarak antara hatimu dengannya.

Dunia punya cara untuk membawanya semakin dekat padamu. Mungkin dalam proses itu badai akan menderanya, membuatmu tersiksa. Tapi jika kalian bertahan pada janji yang kalian miliki, akan ada dunia yang lebih indah di akhir penantian yang sekarang mungkin hanya bisa kalian impikan.

Untuk itu, saya ucapkan semoga berhasil…

++ buat Pras: tenang, Laras setia kok. Mungkin orang-orang di sekitarnya mengganggu dia, tapi kita temen-temennya menjaga dia. Lagian, dia ngga perlu dijaga juga udah tau apa yang dia mau. Laras pilih kamu, dan kamu seharusnya bersyukur untuk itu. =)