Archive for February, 2007

Love As We Know It Pt.2: Life’s A Bitch

Saturday, February 24th, 2007

Satu : Lavi

Her days pass by silently. Why? It’s because the love of her life is now faraway from her. Separated by miles and miles of coast and oceans. What could Lavi possibly want, other than being with him at this very moment? How sad.

It’s not that her days are completely lonely. She always has friends in her companion everytime she finds herself thinking about him. And of course, college has never been this busy, it could choke her with assignments and stuff. Damn lecturers. But she has no choice, at least that can keep her busy every second and every minute every day.

It’s been two months, and she’s still holding on.

Her friends admire her for being faithful and all. You know people these days, loyalty is just so hard to find and Lavi has it. What people don’t know is how hard she tries to keep strong. But she’s tough.

And people just keep getting weirder each and every day.

It’s her class mate Idan, who comes with such offer.

"Come on, Lav, you don’t know what your boyfriend doing there. It’s not quite fair for you. May be he’s having fun and you don’t know it. You should have some fun too. I’ll introduce you to my friend Troy, alright?"

And Lavi just laughs. "Sure Dan, whatever you say." She never means it. But when her girl friends hears the buzz, they were screaming like crazy. Her friend Rinka goes, "Are you kidding me? Troy is like.. fine! If you don’t want him, I’ll take him."

"Rin, come on. You already have a boyfriend. And it’s not like he’s in London or anything. He’s like.. next door!" Lavi replies.

"Yea, that was just a metaphore. I mean, Troy’s so cute.. And he was someone in high school, you know. He was like, bringing samurai to school or sumthin.."

"Are you serious? Haha. You know I totally look for that in a guy!"

The girls giggle. Lavi never means it anyway. Although all her friends keep teasing her about the samurai.

Then comes Yoga. He does nothing that includes beautiful sins for Lavi. But he flirts with her. No, no. He’s being friendly with her. Sure, Lavi doesn’t see it that way. But Oliv thinks he’s flirting with her.

"He’s into you," she says.

"No he isn’t!" says Lavi.

"Oh, shut up. I can see it, why can’t you?"

"Well, he’s nice. But he’s nice to everyone!"

"Yeah, right."

"And, he uses me as a model for his upcoming project. He’s a photographer."

"Hmm. Wondering why."

Lavi’s tired. Hmph. Long distance relationship is so hard. She trusts him, and she knows that she will hold on. But people around her just won’t shut up.

‘Damn. Miss you so, hun..’ she writes on the messenger that night.

Hope the wind and the breeze will tell the man she loves just how much he means to her.

Dua: Olivia

Damn.

Ga tau gimana harus menjelaskan ini. Perasaan berbunga-bunga dan galau gila-gilaan yang mendera. Semalam adalah malam yang gila. Saya sudah gila. Gila karena dia.

Saya ngga tau apa maunya. Atau apa yang ada di pikirannya. Selama ini mencoba mereka-reka, apa yang mungkin terjadi antara saya dan dia? Semua kemungkinan ditolak mentah-mentah sama logika saya. Hahaha. Baru kenal sebentar sudah gede rasa.

Tapi semalam menjawabnya, saya rasa. Jawabannya: dunia sudah gila.

Apa yang kira-kira ada di pikirannya ketika dia tiba-tiba menggenggam tangan saya, atau menyandarkan kepalanya ke bahu saya?

‘Saya lelah, Olivia..’ begitu katanya.

Dan apa yang ada di pikiran saya ketika dia tiba-tiba menggenggam tangan saya, atau menyandarkan kepalanya ke bahu saya? Kenapa jantung ini malah berdegup kencang tanpa peringatan?

‘Please, jantung. Jangan berdebar-debar.’ pinta saya.

Malam itu berlalu sebagai satu cerita.

Entah angin mana yang bercerita. Hari ini semua orang bertanya-tanya. Beberapa terpana, ada pula yang tertawa.

‘Itu dia, Liv, makanya dia dibilang brengsek..’ sahabat saya berkata.

Mengembalikan saya kembali ke realita. Hahaha. Betapa bodohnya (mungkin) saya.

Lalu saya pikirkan lagi semuanya. Bagaimana semua ini bermula. Siapa yang saya sakiti karena dia, dan siapa yang dia sakiti karena saya. Apa mungkin ini permainan waktu belaka.

Dan saya sadar untuk berhenti berlari sebelum saya jatuh dan terluka. Ya, sebuah hal yang biasa dalam perjalanan hidup manusia. Berjalan saja seperti biasa, lalu semuanya akan baik-baik saja. Pandangan biarlah lurus ke depan, tak usah menengok kiri-kanan apalagi ke belakang, supaya tak jatuh tersandung batu di depan mata. Saya dan dia mungkin sebuah cerita, tetapi kami lain dunia. Dan ada hal-hal tentang hidup dan urusan-urusan yang harus kami pikirkan.

Terima kasih atas suatu kenangan. Sekarang kembalilah pada kenyataan.

Tiga : Rilla

"Apa lagi sih mau kamu?"

"Ya aku pingin kamu lebih ngertiin aku."

"Apa lagi yang harus aku mengerti?"

"Ya kamu tanya diri kamu sendirilah."

"Tauk ah. Aku capek."

"Ya siapa suruh kamu banyak kegiatan? Sekarang kalo kamu capek, kamu mau nyalahin siapa? Aku? Aku nggak nyuruh kamu ikutan macem-macem kan? Masih untung aku mau ngerti punya pacar sibuk kayak kamu."

"Hhh.. Ya itu kan pilihan aku, Far.. Kamu kan tau, aku orangnya nggak bisa diem. Suka ikut organisasi-organisasi…"

"Terus sekarang kan kamu sendiri yang capek. Sekarang kalau tugas-tugas kamu terbengkalai, salah siapa? Kalau pacar kamu merasa nggak diperhatiin, salah siapa?"

"Gini deh, Far, aku tuh udah berusaha banget untuk tetep jadi cewek yang baik buat kamu.. Di antara waktu aku yang sempit ini aku masih mencoba meluangkan waktu buat kamu. Waktu aku seharusnya istirahat malem2, aku nerima telpon kamu. Waktu kamu ulang tahun, aku rela pergi naik bus sejam perjalanan buat ketemu kamu. Bahkan nggak pada saat kamu ulang tahun pun aku rela pergi naik bus sejauh itu buat kamu. Sedangkan kamu…"

"Apa? Kamu masih mau bilang aku nggak mau ngertiin kamu juga?"

"Ya udah deh, sekarang gini aja.. Mau kamu tuh apa?"

"…"

"…"

"Ril,"

"Ya?"

"Sekarang kamu pilih mana, aku, atau kegiatan kamu?"

"…….."

[Rilla tidak ingat lagi. Ia terdiam dan menangis. Air mata. Benda yang tak asing dengan bantalnya selama beberapa bulan belakangan ini. Sakit hati adalah hal yang akrab dengannya akhir-akhir ini. Satu yang ia tidak mengerti, (atau mengerti, tapi tak mau percaya) bahwa ia adalah seorang yang sangat baik, dan Deffar seharusnya tau itu. Ia seharusnya tahu itu kalau ia benar-benar sayang Rilla.]

Empat : Vita

Ia menutup telinga. Tapi suara-suara itu begitu kuat menembus benteng hatinya. Tak bisa lagi ia berpura-pura tidak mendengar karena tatapan-tatapan penasaran terasa menghakiminya. Bertanya-tanya, apa yang sesungguhnya terjadi antara Vita dan Arya?

Pertanyaan yang sama yang ditujukan oleh Olivia, salah satu sahabatnya.

Vita tau, Oliv tak tahan bertanya-tanya di belakang pundaknya. Begitulah Olivia.

Tapi Vita sendiri tak tahu jawabannya. Vita sendiri kalau boleh memilih, tidak ingin menjawab karena tentu saja sudah jelas jawabnya. Tapi Oliv terus mendesak. Bukannya Arya sudah ada yang punya?

Vita terenyak. Ya, kenyataan yang pahit tengah dihadapinya. Ia menyakiti seorang perempuan di luar sana dengan kebahagiaannya.

‘Liv,’ tukas Vita, ‘Antara aku dan Arya, biarlah kami berdua saja yang mengerti.’

‘Bukan begitu, Vit,’ sanggah Oliv, ‘Dunia ini tidak hanya terdiri atas kamu dan dia. Ada banyak mata, dan orang-orang bicara.’

Vita bimbang. Oliv benar. Ia salah? Entahlah. Apakah mencinta bisa dibilang salah?

Maka Vita dan Arya bicara.

Bicara. Bicara. Bicara.

Lalu Arya berkata ia dan Eira akan bicara. Eira itu kekasih Arya.

***

Singkat cerita, Arya dan Eira bicara. Akhir cerita mereka telah tiba. Vita tidak percaya, ia telah menjadi katalisator yang membawa Arya dan Eira tiba di ujung cerita. Hatinya berteriak, Ini semua salah! Aku yang salah!

Tapi siapa yang bisa menyalahkan keadaan? Memang lebih mudah menyalahkan seseorang, terlebih diri sendiri, akan suatu masalah. Dengan begitu semuanya akan terasa rasional. Padahal itu semua ilusi semata. Tak ada yang selesai dengan mengumpat diri sendiri habis-habisan.

Kita semua adalah korban dari waktu. Mungkin dulu sekali, Vita salah karena menyapa Arya di hari pertama kuliah. Tapi siapa yang menyangka kisahnya akan jadi sejauh ini? Tidak Arya, Eira, maupun Vita tahu ini akan terjadi. Mungkin waktu itu Vita memilih waktu yang salah untuk menyapa Arya, mungkin Arya memilih waktu yang salah untuk jatuh cinta.

But don’t blame it all on you. Life can be a bitch in many ways, but how you can get yourself up when you’re down, and say, "Man, it’s a piece of cake!" is the art of living. And survive from a heartache, and love again  is an art of loving itself.

Selamat Hari Kasih Sayang…!!!

Wednesday, February 14th, 2007

Yap. It’s another valentine’s day. Saya terbangun dengan perasaan skeptis akan hari ini. Siapa peduli dengan valentine? "Well, yang jelas bukan aku," pikir saya pagi ini. It’s just gonna be another day: kuliah, studio, nongkrong2, pulang. Just gotta get through the same old routine every single day. Tapi saya salah. I closed the day with a big grin on my face. I feel loved!

Entahlah, there was sumthin good about today yang bikin saya menjalani hari dengan langkah-langkah yang ringan. Datang ke studio nggak terlambat, ngerjain nirmana 3d dengan penuh semangat, dan bersenang-senang sepanjang hari. Yup, tumben-tumbennya saya produktif di studio. Biasanya juga nyampah. Tapi hari ini saya ngerjain tugas bareng2 sama teman2 yang slalu bikin saya ketawa, bikin tugas terasa ringan dan ide pun mengalir begitu saja.

Sore hari. Waktunya berjumpa keluarga saya yang lain: LFM. Hari ini di LFM ada acara namanya ValFUCK. Singkatan dari festiVAL Film Untuk Cinta Kasih. Yaa gitu deh, ada pemutaran film dan ada rangkaian acara yg seru-seru buat ajang mengekspresikan cinta kamu untuk semua (tertarik pengen ikutan?? yaa,, udah telat tuh. hehehe). Nah, di LFM ini sekali lagi saya merasa dicintai. Ketemu orang2 that i enjoy to be with bikin saya senang. Kesepian pun terlupakan. Ah, sayang sekali. Tadi sebenernya KRU FAVORIT saya menagih coklat sama saya, tapi pas mau bli coklat ayam jago, ternyata orangnya nggak jualan. Maaf ya, Mas! Anda belum beruntung. Hwehe..

Lalu tiba-tiba ringtone lagu Starlight terdengar. Eh, nomernya seseorang yang saya kenal! Dengan semangat saya angkat. Ternyata sang pacar! Dia masih ingat saya! :-p Kami pun mengobrol dengan semangat. Uuuu, aku sayang dia!! Awalnya masih becanda2. Tapi ujung2nya isi pembicaraan mulai serius. Kemarin-kemarin kami emang sempet ada masalah. (Makanya saya agak skeptis pagi ini). Dan akhirnya banyak hal dibicarakan, perasaan-perasaan diungkapkan. Salah paham diluruskan. And after the talk, saya merasa super lega!! Senangnya membeberkan semua..

It’s a great valentine’s day everyone!!

Coklat? Tentu saja saya dapat dong.. Yang pertama datang dari sahabat saya, Reytia. Coklatnya enak, dark chocolate isi rum gt. Yang kedua dari diri saya sendiri. I bought myself a box of chocolate u/ dinikmati bersama keluarga di rumah. Tema saya tahun ini: cinta keluarga. Karena saya merasa akhir-akhir ini jarang meluangkan waktu untuk orang rumah. Yup! Karena intisari dari hari kasih sayang bukanlah memberikan coklat untuk orang yang kita sayang, tapi memberikan cinta kasih itu sendiri untuk semua orang. Aduuh, maaf bahasanya gak bisa lebih romantis lagi! Paradoks banget sama hati saya yang penuh cinta, wahaha!

Ada yang udah nonton film berjudul Little Manhattan? Tonton deh. Cerita tentang cinta pertama gitu. Very, very cute. Film ini menutup hari saya yang penuh cinta, mengajarkan saya pengertian baru tentang cinta dan mencintai itu sendiri.

Selamat hari kasih sayang, semuanya!!

Laporan Hari Ini

Wednesday, February 7th, 2007

Kamu ngga usah khawatir. Hari ini toh berjalan seperti biasa. Ya, ya. Semua berjalan seperti biasa. Bahkan matahari sempat tersenyum untuk kita. Yah, semoga kamu merasakannya.

Saya kangen kamu.

Bandung Dingin . . .

Monday, February 5th, 2007

Waa.. long time no posting nih! Sebenernya bingung juga mau nulis apa. Bandung dingin di malam hari. Itu sudah pasti. Tapi hati saya lebih dingin daripada itu.

Yaps. Bisa dibilang saya ini aktris yang berbakat. Menutupi luka di dalam dengan senyuman yang sempurna. Padahal sebenarnya sepasang mata  berbinar-binar yang kamu lihat hari ini, telah habis diseka tisu-tisu kasar yang berusaha menghalau air mata di malam sebelumnya. Semua itu keajaiban kompres mata di pagi hari, sayang…

Senyum, tawa, gurauan konyol yang mengundang gelak, semuanya adalah bagian dari penyamaran yang berusaha saya tampilkan sebaik mungkin. Seperti peran-peran femme fatale dalam karya-karya Noir klasik. Senyuman ini tidaklah palsu, tapi bukan juga berarti ini diriku yang sebenarnya. Mungkin saya tidak tampil sebagai ‘aku’ yang seutuhnya.

Pertanyaannya, kenapa?

Kenapa seorang gadis rela mengenakan topeng setiap saat? Kenapa ia tertawa saat hatinya terluka? Mengapa ia tak jujur saja pada dunia agar mereka berbalik kasihan padanya? Hah. Yang benar saja. Dunia mengenalnya sebagai ‘gadis yang tertawa’. Apa mereka akan mengenalinya bila ia berurai air mata?

Padahal lelah juga memakai topeng tebal seperti ini. Akan lebih mudah kalau bisa melihat dunia tanpa senyum yang dipaksakan. Akan lebih mudah kalau saya bisa meneriakkan apa yang saya rasakan. Bukannya menyimpan di dalam.

Tapi kamu kenal saya. Saya adalah bom waktu. Dan kamu benci itu, saya tahu. Tapi tahukah kamu? Kalau saya ungkapkan saja semua yang ada di benak saya, mungkin akan kamu benci saya lebih dalam. Karena saya adalah makhluk yang egois. Dan kalau saya memilih diam, itu karena saya mencoba menekan ego saya rapat-rapat. Tanpa saya sadari, itu melukai diri saya sendiri. Pilihannya, saya keluarkan rasa marah sama kamu atau menangis dalam diam. Kadang saya pilih yang pertama. Tapi sering saya memilih yang kedua. Hanya saja kamu tak tahu. Tak ada satu orang pun yang tau. Cuma saya dan dinding-dinding kamar saya yang biru.

Tapi kamu kenal saya.

Kamu tau setelah ini saya akan tertidur lelap lagi. Lalu bangun dengan irama yang sama di pagi hari. Saya akan tersenyum lebar lagi, mungkin lebih lebar dari kemarin karena toh saya sudah tumpahkan hal ini di sini. Saya bukan peri cengeng yang menangisi pahitnya sunyi. Hey, saya akan bangkit lagi! Tertawa lagi. Bercanda lagi. Ini mungkin bukan diri saya yang seutuhnya, tapi bukan berarti tawa ini bukan punya saya kan?

Toh, pada akhirnya Kamu juga yang bisa membuat saya tertawa lepas lagi. Menyayangi tulus lagi. Memaafkan lagi. Tersenyum lagi.