Archive for December, 2006

Sebuah Kontemplasi Akhir Tahun

Friday, December 29th, 2006

Waw.

Udah hampir tahun 2007 lagi. Berarti tahun depan ini umur gw dua puluh. Tuhan,, waktu begitu cepat. Apakah saya terlalu cepat berlari? Atau terlalu banyak tidur?? (yang kedua ini rasanya tidak mungkin)

Hmm.

Kontemplasi. Kata yang sulit, ya? Tapi kalo ndak salah to contemplate berarti ‘to view or consider with continued attention‘ yang kurang lebih bisa kita terjemahkan dengan ‘renungan’ atau ‘introspeksi’.

Dua ribu enam. Sebuah tahun yang sulit. Diawali dengan saya kehilangan kamera digital dalam perjalanan naik kereta api ke Malang pd malam tahun baru. (I know. sucks, eh?) Lalu di tengah tahun deg-degan nyari kuliah. Menjelang akhir tahun putus sama pacar, walaupun selanjutnya balik lagi. Dan ditutup dengan UAS.

Kalau hidup saya pada 2006 ini adalah sinetron, maka alurnya banyak naiknya, dengan beberapa penurunan kadar adrenalin yang tidak begitu signifikan. Haha.

Tahun 2006 adalah tahun pembelajaran buat saya. Banyak sekali yang saya pelajari. Misalnya, saya baru sadar kalo saya mau berusaha, ternyata saya mampu. Emang sih, sebelumnya pasti udah sering bgt denger quote ini, tapi baru pada tahun ini saya bener2 ngalamin sendiri. Waktu awal masuk SMA 3, temen2 sekelas saya keliatannya pinter2 banget! Juara kelas pas smp lah, anak olimpiade lah, calon aksel, calon Nobel, dll. Bayangin, ulangan pertama di SMA dapet 2. Rasanya waktu itu pingin ditimpa Brad Pitt. (heuheu) Ternyata di tahun 2006 ini saya untuk pertama dan terakhir kalinya berhasil masuk jajaran ranking 10 besar di kelas. Alhamdulillah.. Jadi serasa masih SD, masa2 kejayaan. Wakakak!!

Terus, masih dalam konteks ‘aku mau maka aku bisa’, akhirnya saya bisa masuk jurusan idaman: Arsitektur ITB. Selama setahun ini berusaha meyakinkan orang tua kalo saya bisa, dan meyakinkan diri sendiri kalo saya mampu. Alhamdulillah saya berhasil sampai di sini. Tapi ternyata jalan nggak berhenti di sini. Masih ada jalan terjal belok-belok dan mendaki di dalamnya. Hhh.. Capek banget, padahal baru awalnya doang. Tapi setiap kali saya menyerah, saya marahin diri saya sendiri. Ini kan yang gw mau? Masa gw mau menyerah? Maka dengan penuh peluh, darah, dan derai air mata, saya pun menjalani hari demi hari, tugas demi tugas, di kampus idaman Labtek IX B.

Lalu saya juga, dalam skala tertentu, berhasil mencapai aktualisasi diri. Waktu saya kehilangan seorang yang saya sayangi (baca: Pacar, red), pertamanya saya sedih (ya iyalah. layaknya orang normal lainnya). Tapi somehow I got up. Meyakinkan diri sendiri kalo masih banyak orang yang sayang sama saya, masih banyak hal-hal yang perlu dipusingin dari sekedar masalah percintaan. Saya belajar kalo saya tuh sebenernya kuat, dan merasa sedih, kecewa, dan sakit hati adalah hal yang manusiawi.

Di tahun ini juga saya banyak ketemu temen baru. Makhluk-makhluk ajaib dan gila yang benaung dalam kesatuan mahasiswa Arsi ITB 06, bermarkas pusat di Studio TPB lantai 6 Labtek IX B. Padahal baru pertama ketemu tahun ini. Tapi keringat, darah, dan cat poster jualah yang menyatukan kita. Ajaibnya kita bisa langsung deket. Banyak hal-hal yang mereka tahu tentang saya, yang bahkan temen SMA saya yang sudah kenal sejak lama belum tentu tahu. Yah, nggak heran lah. Tiap hari dari pagi sampe sore ketemu, dengan tugas-tugas yang full pressure, sifat asli orang langsung ketahuan. Tapi anehnya malah bikin kami langsung deket.

Selain anak Arsi, saya yang pada awalnya takut kuper dan nggak punya temen ITB lain selain arsi juga punya banyak kenalan di luar ARsi. Gara-garanya saya ikut kegiatan bernama Liga Film Mahasiswa. Ini obsesi saya dari lama, belajar bikin film. Sayang baru kesampean sekarang. Maka selain berkesempatan mewujudkan impian saya, di sini saya juga dapet banyak kenalan baru dari berbagai daerah, angkatan dan jurusan. Sempet dapet kecengan baru juga. Tapi sekarang udah il-feel sama kebanyakan makhluk LFM. Huhu. Mereka lebih enak dijadiin temen dan TTM-an. (oops,,, wakakak! bcanda deeh.)

Ketemu dengan banyak temen baru, belajar berinteraksi dengan berbagai macam karakter orang, bikin karakter saya sendiri banyak dicoba. Sempet saya ngerasa down, ngerasa nggak berkembang banget jadi orang, tapi seorang yang saya sayangi menyadarkan saya kalo semua ini adalah bagian dari proses pengembangan diri itu sendiri. Kalo saya nggak sempet ngerasa down, saya nggak akan pernah belajar untuk bangkit dari posisi down itu, dan saya nggak akan berkembang. Eh, bener juga ya??

A big slap on your face makes you stronger.

Sering saya merasa, saya nggak cukup baik bagi orang lain. Saya masih sering banget bikin orang tua saya sedih, bikin pacar saya bingung, bikin orang di sekeliling saya salting, dll. Padahal di awal tahun gw punya resolusi untuk menjadi orang yang lebih sabar dan bisa mengontrol emosi. Tapi itu sulit sekali dilakukan. Mungkin karena saya sendiri yang nggak tahu batasan kemampuan tubuh sendiri. Terlalu banyak kegiatan bikin stres, dan kalo udah kayak gitu diingetin minum vitamin sama nyokap saja bisa dibalas dengan nyolot sama saya. Sebenernya saya juga nggak pernah bermaksud membuat Ibu saya sedih, tapi seorang Vivien entah mengapa susah banget ngontrol emosi, no matter how hard I try. Or may be I’m just not trying hard enough? Yah, saya rasa tahun depan harus lebih banyak berdzikir. (Eh, ini serius!!)

Hmm.. Apalagi nih?

Yah, kalo boleh sombong, tahun ini juga bisa dibilang tahun penuh…. mantan. Wahaha. Sebenernya gak ada maksud ngungkit2 sih, tapi tahun ini entah mengapa, orang2 dari masa lalu itu datang lagi dan menyatakan kalau saya adalah salah satu lembaran terindah dari hidup mereka (mencoba berpuisi,red). Bikin saya merasa bersalah, karena saya bukanlah orang yang sempurna. Saya hanya orang yang mencoba menjalani hari ini (just try to get through each and every day). Saya banyak mengecewakan orang yang sayang sama saya, tapi mereka bilang saya lembaran terindah? All I can say is, semua pujian itu saya ambil sebagai cambukan untuk menjalani hari ini dengan lebih baik, dengan orang yang saya sayangi. (kenapa pas bagian ini soundtracknya Ari Lasso sih?? warnet sialan.)

Kontemplasi gak ada artinya kalau tanpa kemauan untuk memperbaiki diri. Maka dari itu saya menyusun resolusi untuk tahun 2007 ini. Semoga bisa tercapai dan ngga cuma janji-janji belaka. Amin..

My New Year Resolution:
+ Learn Sumthin New!! (belajar bahasa Jerman? mungkin sama fotografi juga)
+ Lebih sabar,, lebih bisa ngontrol emosi.
+ Nggak judgemental parah (misalnya sama musik emo)
+ Mengembangkan hobi menulis (nulis sesuatu yang bermutu..)
+ Mulai nabung. Jangan boros
+ Lebih fokus di akademik. (Cum Laude bukanlah tujuan utama, tapi bisa diusahakan laah)
+ banyak dzikir. lebih inget sama Allah, gak cuma pas lagi susah doang…
+ MANAGEMENT WAKTU!!!

Ketika Gedung-Gedung Itu Membisu dan Kita Berjalan Terlalu Cepat : Sebuah Meditasi Arsitektural

Wednesday, December 20th, 2006

Gedung Sate

Mungkin karena saya adalah warga Bandung yang hampir tiap hari melewati bangunan Gedung Sate, saya nyaris tidak pernah memperhatikan secara khusus bangunan tersebut. Saya malah cenderung menyamakan Gedung Sate dengan bangunan kuno peninggalan Belanda lainnya.

Tetapi bila diperhatikan lebih dekat lagi, Gedung Sate memang memiliki keunikan pada menara tengahnya yang memiliki beberapa tingkatan atap, membedakannya dari bangunan kuno lain, seperti misalnya bangunan SMAN 3 Bandung dan SLTPN 5 Bandung. Atap yang bentuknya unik ini menjadi ciri khas tersendiri, yang bahkan hanya dengan melihat fotonya saja kita bisa menebak, “itu pasti gambar gedung sate”. Apalagi dengan ornament berbentuk tusuk sate di puncaknya. Secara keseluruhan, saya berpendapat bahwa Gedung Sate adalah bangunan yang sangat khas dan memiliki identitasnya sendiri.

Di satu sisi, saya melihat kompleks bangunan Gedung Sate ini, apalagi dilihat dari bagian depan yaitu yang menghadap ke arah Jl. Diponegro, terlalu simetris kanan dan kirinya. Mungkin ini merupakan tren yang berlaku pada saat itu, apalagi gaya arsitekturalnya terinspirasi dari gaya renaissance di Italia. Tetapi mungkin juga gaya bangunan yang tepat simetris ini digunakan untuk menunjukkan wibawa bangunan tersebut. Apalagi sejak awal berdirinya, bangunan ini memang dipergunakan sebagai kantor pemerintahan Hindia-Belanda. Simetri mungkin dipergunakan untuk menunjukkan wibawa pemerintah kepada rakyat karena simetri melambangkan keseimbangan.

Jalan Braga

Tanpa harus dilihat dengan jeli, semua orang yang pernah melewati jalan Braga pasti dapat menyimpulkan perbedaan jalan ini dengan jalan-jalan lain di kota Bandung maupun di kota besar manapun di Indonesia. Selain gaya arsitekturnya yang beragam, dapat kita lihat perbedaan jalan Braga terletak pada letak bangunannya yang hampir menempel dengan garis jalan. Umumnya pada jalan-jalan lain di Bandung bangunannya tidak langsung berbatasan dengan trotoar, melainkan memiliki garis sepadan bangunan. Hal ini memberikan kesan tersendiri bagi pengguna jalan yang melewati jalan Braga.

Keragaman arsitekturalnya pun tidak usah disangkal lagi. Walaupun sekarang banyak yang sudah tidak digunakan, tetapi bangunan-bangunan kuno yang masih berdiri kokoh itu menjadi suatu meditasi khusus bagi saya setiap kali melewatinya. Terkadang kita bosan dan jenuh melihat bentuk-bentuk bangunan lain di kota Bandung ini, tetapi melewati jalan Braga selalu memberikan efek psikologis sendiri, sehingga saya pribadi tidak pernah bosan jika melewatinya. Saya yakin banyak penduduk kota Bandung merasakan hal yang sama jika melewati jalan Braga.

Sangat disayangkan jika jalan Braga yang memiliki nilai historis dan nilai estetika yang begitu tinggi terus dibiarkan membisu seperti sekarang ini. Menurut saya perlu ada usaha dari pemerintah kota untuk merevitalisasi jalan ini.

Selasar Seni Sunaryo

Sesuai fungsinya sebagai galeri, bangunan Selasar Seni Sunaryo sendiri memiliki nilai estetika keindahan yang dapat kita mengerti sebagai sebuah karya seni. Modul utamanya adalah balok yang bagian atasnya mencuat, atau mengalami proses addisi dengan bentuk geometri segitiga. Selasar Sunaryo bisa dibilang sebagai suatu kompleks arsitektur, karena terdiri atas beberapa bangunan yang dihubungkan dengan ruang-ruang terbuka yang sesuai dengan konsep ‘.

Memasuki kompleks galeri, kita sudah merasakan konsep ‘keterbukaan’ yang ingin ditampilkan, karena bentuk ruangannya yang sederhana dan lapang membuat kita terfokus pada setiap karya beliau. Bentuk atap miring yang langsung menyambung pada bangunan lebih memberikan kesan lapang. Kaca-kaca jendela yang lebar memberikan kesan terbuka karena pada saat yang bersamaan dengan pengunjung menikmati karya seni di dalam, ia juga dapat merasakan seolah-olah berada di luar ruangan.

Lahan seluas 5000 m2 yang konturnya bertingkat-tingkat juga memberikan kesan luas, sehingga setiap level bisa dieksplorasi dengan leluasa tanpa menghilangkan ciri khas keseluruhan bangunan. Setelah kita keluar dari bangunan utama, misalnya, lalu turun ke bawah menuju bangunan mushola, kita akan disambut dengan pemilihan material yang sifatnya lebih natural seperti batu bata, dengan jalan setapak yang di kanan kirinya ditanami rerimbunan bambu hitam. Gradasi material ini seolah menjadi suatu pertanda perjalanan kita memasuki ‘dunia yang berbeda’, yaitu dunia spiritual kita dengan Sang Pencipta.

Selain sebagai galeri seni, Selasar juga mempunyai area café yang diatur dengan interior sederhana untuk tetap menjaga kesan keterbukaan. Dengan view indah ke arah bukit Dago Pakar dan udara sejuk daerah Dago, pengunjung dapat merasakan relaks bila berada berjam-jam di café tersebut.

Potongan Terakhir

Sunday, December 10th, 2006

Kue itu bernama Memori. Adonannya terdiri atas momen, waktu,rasa, air mata, tawa, luka, bahagia, cinta, semua teraduk menjadi satu. Cara pembuatannya memerlukan tekad yang kuat dari sepasang manusia. Menikmatinya pun bukan dengan merasakan hasil akhirnya yang matang dengan sempurna. Kau akan mengerti nikmatnya kue itu dengan melihat, merasakan, dan menjalani setiap langkah pembuatannya sebagai proses.

Yang mengherankan, setiap potongannya akan memberikan rasa yang berbeda-beda setiap kali. Terkadang pahit, kadang manis, kadang masam luar biasa. Bahkan potongan yang sama belum tentu memiliki rasa yang sama bila dinikmati orang lain. Kadang juga kau mengira sudah menghabiskan potongan dengan rasa manis, tapi tiba-tiba di lain hari kau menemukan rasa yang sama pada potongan yang luar biasa berbeda. Saat itu kau melihat kue itu dari sudut pandang yang berbeda.

Potongan itu telah kusimpan selama bertahun-tahun di dalam ingatanku. Itu adalah potongan terakhir yang kumiliki bersama Dia, dan aku tak berniat mengusiknya. Sejauh ingatanku, Memori yang satu itu memiliki rasa yang berbeda. Pahit di akhir cerita, ketika aku justru sedang merasakan manis yang seindah-indahnya.

Tapi suatu hari Dia datang lagi, menyodorkan potongan terakhir itu ke hadapanku. Aku tak punya pilihan lain lagi.

Ternyata potongan terakhir itu menyimpan seratus macam kegetiran yang tersisa ketika kisah Kami berakhir. Belasan malam yang dilalui untuk melupakan rasa dari setiap potongan-potongan Memori yang Kami miliki. Karena betapa pun pahitnya kue itu pada akhirnya, tetap saja tak bisa melenyapkan manis dari setiap gigitan Memori yang Kami pernah miliki sebelum itu.

Potongan terakhir itu membawaku tersedu dalam lelehan air mata yang sudah terlalu lama tertahan, membeku.

Maka telah habislah potongan yang tak berani kuusik selama bertahun-tahun itu, dan yang aku rasa adalah bahagia. Baru aku mengerti rasa seutuhnya dari Memori tersebut. Setiap momen yang dimiliki, setiap waktu yang terlewati, setiap tawa, setiap air mata, semuanya punya andil dalam menentukan kualitas Memori yang aku buat.

Sekarang potongan terakhir telah saya lahap. Bukan berarti memori itu ikut lenyap. Kini saya rasakan ia tersimpan dengan rapinya di dalam kotak bernama Ingatan. Setiap waktu saya bisa membukanya dan membolak-balik setiap halamannya seolah-olah itu adalah buku. Setelah puas, saya simpan lagi di dalam kotak, dan kembali saya bisa menjalani setiap harinya dengan penuh rasa syukur saya pernah punya Memori bersama Dia.

Karena seindah apapun memori yang pernah kita miliki, yang terpenting adalah menjalani hari ini dengan sebaik-baiknya. Karena suatu saat nanti kau akan melihat kembali ke hari ini dan kau tak mau menyesalinya.

Karma

Sunday, December 3rd, 2006

One simple question occurs to me today: "Do you believe in Karma?"

Well, I don’t know. Should we? Maksudku, bahkan di Al Quran pun disebutkan: Kebaikan sekecil apapun, akan dibalas dengan kebaikan pula. Begitu pula dengan kejahatan. (hmm.. pretty much that’s how it is said.) Jadi gw rasa jawabannya ‘Iya’, I believe what goes around comes around.

Masalahnya, bagaimana Karma bisa muncul? I mean, ‘how come’?

Kalo menurut gw, di dalam naluri manusia tercetak sebuah blue print universal tentang perilaku manusia; it’s just a matter of choice bagaimana kita menanggapi impuls-impuls yang kita tangkap. Terkadang pola yang sama bakal berulang dan menabrak kita lagi. Makanya kita menganggap itu karma. Padahal itu tak lain adalah satu dari sekian juta simpul yang terbentuk dalam sebuah gulungan benang wol rumit yang kita sebut alam semesta.

Contoh kasusnya gini. Let’s say… si Abdul pernah selingkuh dari pacarnya yang bernama Betty. Selingkuhannya bernama Caca. Tapi Abdul kapok. Ia akhirnya melepaskan keduanya. Tahun-tahun berselang, ia lalu punya pacar baru bernama Diana. Mereka pacaran. Tiba-tiba Abdul melihat Diana jalan sama cowo lain, yang selanjutnya diketahui bernama Edward. (ato Edgar juga bisa, hihi..). Maka Abdul menyimpulkan, "Damn. Gw diselingkuhin! Karma nih, gw…"

Hmm. Itu salah satu contohnya aja yaa.. Intinya sih gini: si Abdul pernah memilih untuk selingkuh (pola X), dan di kemudian hari ia menemukan dirinya diselingkuhi (pola X aksen). Maka dia menyebut ini Karma. Padahal kalo qt zoom out, dia ‘kebetulan’ ditakdirkan untuk berada di titik yang sama dengan titik di mana Diana memilih untuk selingkuh. Lho, polanya X lagi kan? Hanya saja bentuknya tampak berbeda, karena ia ditempatkan di posisi yg berbeda.

Again, what goes around comes around. Bahasan Karma ini makin menarik karena adanya ‘perubahan posisi’ tadi. Orang yang dulu ‘pernah diselingkuhin’ tiba-tiba menemukan dirinya dalam posisi ‘tengah berselingkuh’ atau malah ‘dijadikan selingkuhan’. Ini mengajak kita untuk melihat kembali segala sesuatu lebih jauh (bukan lebih dekat). Dunia ini nggak cuma dua, tiga, bahkan empat dimensi. Dunia ini multidimensional. Suatu masalah nggak bisa dipandang hanya dari satu kaca mata. Gw rasa segi positif dari what’s so-called ‘Karma’ bisa membuat kita mengerti bagaimana rasanya ada di posisi lain dari suatu masalah, dan dengan begitu kita bisa mengambil pilihan yang lebih bijak.

Gw mengambil contoh perselingkuhan karena itulah contoh yang paling dekat dengan topik ‘Karma’. May be you can relate it to other cases and you can draw your own conclusion by it. Ini pendapat subjektif gw aja.

Intinya sih, kalo elo ngga mau dijahatin, jangan jahat sama orang lain. Treat others the way you wanna be treated. Kalo ngga mau dibohongin pacar, ya jangan ngebohongin dia. Kalo ngga mau digampar, jangan maling tas orang. *haha!* Dunia ini punya cara-cara yang unik buat nunjukkin kebesaran-Nya. Dan sebagai manusia, all you gotta do is to live your life to the fullest. Jangan musingin soal Karma atau bukan, yang terpenting adalah menjalani hidup sebaik mungkin. Biar Tuhan yang menentukan pembalasan yang tepat buat segala perbuatan kita.

"God is a comedian playing to an audience too afraid to laugh" -Voltaire-

Paranoid… (anjroid!)

Sunday, December 3rd, 2006

+: Aku takut…

-: Apa yang kamu takutkan??

+: Kamu tidak fokus..

-: Maksud kamu?

+: Apakah aku masih jadi prioritasmu? Aku ingin fokus kamu hanya padaku, hanya aku.

-: Suatu keinginan yang egois..

+: Panggil aku egois. Semua orang pun akan begitu kalau jadi aku.

-: Itu pembenaran.

+: Baiklah. Aku akan bebaskan kamu. Selesaikan urusanmu. Aku akan tetap di sini.

-: Aku tidak akan ke mana-mana.

+: Kamu tidak pernah tahu.

-: Kenapa kamu tidak mau percaya padaku?

+: Kamu salah… Bukan kamu yang tidak aku percaya…